History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Kemenlu Jerman: Membuka Ruang Kontak dengan Taiwan dan Mengembangkan Hubungan Bilateral

  • 18 November, 2023
  • 李珮菁
Kemenlu Jerman: Membuka Ruang Kontak dengan Taiwan dan Mengembangkan Hubungan Bilateral
Bendera Jerman (foto: AP Image)

(Taiwan, ROC) -- Petra Sigmund, Dirjen Urusan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Pasifik dari Kementerian Luar Negeri Jerman menyampaikan di Berlin, bahwa Jerman bermaksud untuk terus mengembangkan hubungan dengan Taiwan. Selain menjalin kontak dengan presiden, perdana menteri, dan kepala negara lain yang melambangkan kedaulatan, ruang untuk berhubungan dengan Taiwan juga terbuka. Ia juga menekankan, bahwa Taiwan akan berkomitmen untuk mempertahankan status quo di sekitar Selat Taiwan.

Reinhard Butikofer, kepala delegasi Hubungan dengan Tiongkok dari Partai Hijau Jerma, Parlemen Eropa, menggelar Konferensi Taiwan untuk kedua kalinya pada tanggal 13 November di Berlin. Konferensi ini berfokus pada isu-isu pemilihan presiden dan penanganan otorianisme di masa lalu, menarik hampir 100 orang untuk berpartisipasi dengan siaran langsung di platform YouTube.

Dalam pidato pembukaannya, Sigmund pertama-tama menyampaikan, bahwa meskipun Jerman tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, tapi pihaknya terus menjaga hubungan baik dengan Taiwan di berbagai bidang, seperti akademi dan perdagangan, serta berencana untuk terus mengembangkannya. Jerman juga mempersiapkan kerja sama dengan Taiwan dalam hal pengajaran Bahasa Mandarin, serta memperkuat kemampuan untuk mempelajari Tiongkok.

Pada bagian kontak resmi, Sigmund menunjukkan bahwa Jerman mematuhi “kebijakan Satu Tiongkok”, tapi hal tersebut tidak berarti sama sekali tidak berhubungan dengan Taiwan, melainkan hanya sampai pada tingkat kementerian. Menteri Pendidikan dan Penelitian Jerman baru saja mengunjungi Taiwan tahun ini, dan Menteri Kehakiman dari kedua belah pihak juga telah bertemu. Kunjungan pertukaran antar anggota parlemen juga berlangsung secara berkala dan interaksi-interaksi ini memungkinkan di bawah “Kebijakan Satu Tiongkok”.

Ia menjelaskan, bahwa prinsip Jerman adalah 7 kepala perwakilan utama yang mewakili kedaulatan, termasuk presiden, perdana menteri, dan menteri luar negeri untuk tidak berhubungan dengan Taiwan. Sebagai tambahan, “ruang kontak lainnya terbuka, dan Jerman berupaya untuk memaksimalkan hal tersebut.”

Ia pun menekankan bahwa interaksi-interaksi dengan Taiwan ini akan membuat Daratan Tiongkok merasa tidak nyaman. “Jerman akan bekerja keras untuk mempertahankan ruang-ruang ini dan memastikan status quo hubungan dengan Taiwan, karena Taiwan sangat penting bagi Jerman.”

Negara-negara Uni Eropa lainnya, Sigmund menganalisis bahwa setiap negara memiliki hubungan yang berbeda dengan Taiwan. Seluruhnya mendeklarasikan “Kebijakan Satu Tiongkok” kepada dunia luar, tapi tidak ada pendekatan yang sama. “Kebijakan Satu Tiongkok” Jerman bukanlah “Prinsip Satu Tiongkok” yang dianut Tiongkok. Jerman percaya bahwa resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tidak dapat tercermin dalam “Prinsip Satu Tiongkok”.

Jerman menyelenggarakan Pemilihan Umum pada akhir 2021, di mana partai-partai yang berkuasa kemudian mendukung partisipasi Taiwan dalam komunitas internasional dalam perjanjian koalisi, menekankan bahwa status quo di Selat Taiwan hanya dapat berubah dengan premis perdamaian dan kesepakatan bersama. Sigmund menekankan bahwa ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Jerman di mana perjanjian koalisi menyebut Taiwan.

Dia juga mengutip strategi pertama Jerman terhadap Tiongkok yang dirilis pada bulan Juli, menjanjikan bahwa Jerman akan terus mendukung partisipasi Taiwan dalam organisasi dan konferensi internasional. Hal ini menekankan bahwa isu-isu di Selat Taiwan hanya dapat diselesaikan dengan cara damai dan konflik militer akan bertentangan dengan kepentingan Jerman maupun Eropa.

Mengenai status Selat Taiwan saat ini, Sigmund mengutarakan bahwa salah satu pihak dari Selat Taiwan menginginkan reunifikasi, sementara pihak lainnya ingin menjaga kemerdekaan, kebebasan gaya hidup, serta mengembangkan hubungan dengan pihak asing. Tidak ada pihak yang benar-benar puas dengan status quo, tapi demi stabilitas wilayah dan global, tidak ada pilihan lain selain status quo.

Oleh sebab itu, bagi Jerman, menjaga status quo di Selat Taiwan merupakan pilihan terbaik dan dengan demikian hubungan dengan Taiwan juga dapat berkembang. Sigmund menyampaikan, bahwa Jerman akan bekerja keras untuk menjaga dan mempertahankannya.

Jerman dan Taiwan telah sering berinteraksi akhir-akhir ini. Di bulan Maret tahun ini, Menteri Pendidikan dan Penelitian Jerman, Bettina Stark-Watzinger berkunjung ke Taiwan, menjadi pejabat kementerian Taiwan pertama yang mengunjungi Taiwan dalam 26 tahun terakhir.

Menteri Kehakiman Taiwan Tsai Ching-hsiang (蔡清祥) juga telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Kehakiman Jerman Marco Buschmann. Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama dari kepala kementerian kehakiman dari kedua belah pihak.

Komentar

Terbarumore