History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

MOL Mengkonfirmasi akan Menempatkan PMA India ke Taiwan, MOL: MOU Paling Cepat Ditandatangani Sebelum Akhir Tahun

  • 14 November, 2023
  • 尤繼富
MOL Mengkonfirmasi akan Menempatkan PMA India ke Taiwan, MOL: MOU Paling Cepat Ditandatangani Sebelum Akhir Tahun
MOL Mengkonfirmasi akan Menempatkan PMA India ke Taiwan, MOL: MOU Paling Cepat Ditandatangani Sebelum Akhir Tahun

(Taiwan, ROC) --- Kekurangan tenaga kerja di Taiwan kian menjadi masalah serius. Pada tanggal 13 November 2023, Menteri Ketenagakerjaan, Hsu Ming-chun (許銘春) mengkonfirmasi bahwa Taiwan akan mengimpor pekerja dari India. Diharapkan penandatanganan MOU dapat dilakukan sebelum akhir tahun

Dengan demikian, India akan menjadi negara berikutnya bagi sumber penempatan Pekerja Migran Asing (PMA) di Taiwan.

Belum dipastikan apakah jumlahnya akan melebihi 100.000 orang, tetapi pihak agensi di Taiwan menyambut baik rencana ini.

Pihak agensi menyampaikan bahwa sebelumnya Taiwan terlalu bergantung pada Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina, terhadap sumber penempatan tenaga kerja.

Selain itu, para pekerja migran dari India yang mampu berbicara bahasa Inggris diharapkan dapat membantu sektor teknologi tinggi dan konstruksi di Taiwan.

Hsu Ming-chun menyatakan bahwa Yuan Eksekutif telah menyetujui isi MOU kerja sama tenaga kerja dan saat ini sedang dalam negosiasi dengan pihak India untuk menetapkan waktu penandatanganan MOU, yang diharapkan dapat selesai pada akhir tahun.

Setelah MOU ditandatangani, kedua belah pihak akan mengadakan pertemuan kerja untuk membahas industri yang akan diimpor pekerjanya, beserta jumlah, syarat kualifikasi pekerja migran, bukti pemeriksaan kesehatan, dan lain-lain.

Setelah pertemuan-pertemuan ini diselenggarakan secara intensif dan kesepakatan dicapai, maka Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) akan mengumumkan secara resmi tentang penempatan pekerja migran dari India.

Menanggapi pernyataan dari pihak luar perihal jumlah penempatan PMA India yang bisa mencapai 100.000 orang, Hsu Ming-chun mengatakan bahwa angka ini masih belum pasti, tergantung pada kebutuhan setiap industri dan apakah kualifikasi dari pihak India memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Taiwan.

Huang Kao-chieh (黃杲傑), Ketua Kehormatan National Federation of Employment Service Association (NESA), menyatakan bahwa sebelumnya Taiwan terlalu bergantung pada Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina, yang pada akhirnya membentuk monopoli bersama.

Huang Kao-chieh melanjutkan bahwa tidak jarang, jika Taiwan akhirnya menjadi korban permintaan mereka.

Sebagai contoh, sektor perawatan kesehatan di Taiwan terlalu bergantung pada Indonesia, sedangkan sektor industri teknologi mutakhir bergantung pada Filipina, dan industri "3K" (berisiko, melelahkan, kotor) bergantung pada Thailand.

Namun, seiring dengan pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir yang berkembang pesat, membuat penempatan tenaga kerja ke Taiwan menjadi semakin sulit.

Di sisi lain, banyak orang India yang berbicara bahasa Inggris dan memiliki tingkat pendidikan yang mumpuni, yang tidak hanya dapat menambah sektor konstruksi, tetapi juga membantu industri teknologi mutakhir di Taiwan.

"Namun, tidak mungkin langsung menempatkan 100.000 orang (India) di Taiwan," kata Huang Kao-chieh.

Untuk pekerja sektor perawatan kesehatan, misalnya, mereka memerlukan pelatihan selama 2 hingga 3 bulan, dan masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kualifikasi pembuatan visa dan sertifikat kesehatan.

Dari waktu dibukanya hingga tibanya PMA India di Taiwan, mungkin masih membutuhkan waktu setidaknya sekitar enam bulan. Sedangkan untuk pekerja sektor buruh, permintaan kemahiran bahasa tidak terlalu ketat, dan mungkin membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk mengatur visa dan sertifikat kesehatan mereka.

Huang Kao-chieh memprediksi, jika semuanya berjalan lancar, maka jumlahnya mungkin akan melebihi angka 100.000 orang.

Komentar

Terbarumore