(Taiwan, ROC) --- Perkembangan teknologi saat ini terjadi sangat cepat. Penjualan smartphone di Taiwan diberitakan mencapai 6 juta unit per tahun.
Di tengah tingginya angka di atas, tingkat daur ulang ponsel cerdas di Taiwan hanya berkisar 12%.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, diketahui ada lebih dari 50% warga lebih memilih untuk menyimpan smartphone lama mereka di rumah.
Beberapa alasan mengapa warga memilih untuk menyimpan smartphone lama mereka di rumah, meliputi ketidaktahuan tentang lokasi daur ulang, serta kurangnya insentif pemerintah, dan kekhawatiran tentang kebocoran data pribadi.
Badan Sumber Daya Daur Ulang (Resource Circulation Administration – RCA), di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup, berencana untuk melegalkan peraturan daur ulang smartphone, dengan harapan bisa mencapai 15% pada tahun 2025, dan 30% pada tahun 2030.

RCA menambahkan bahwa komponen smartphone mengandung banyak elemen kimia. Daur ulang dapat mengurangi ekstraksi bahan baru dan emisi CO2.
Nantinya, peraturan daur ulang smartphone akan mengharuskan pihak merek dan penjual smartphone untuk bertanggung jawab atas pengumpulan dan pemrosesan daur ulang. Dengan demikian, memungkinkan smartphone didaur ulang dan digunakan kembali.
Selain itu, juga diharapkan para pelaku industri menawarkan layanan daur ulang, seperti penyewaan atau perbaikan smartphone.
Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa sejak tahun 2006, ponsel telah diumumkan sebagai produk yang harus didaur ulang. Otoritas berwenang juga telah menyatakan kesediaan mereka untuk membantu masyarakat mendaur ulang ponsel bekas.
Mulai tahun 2008, pihak kementerian bekerja sama dengan produsen dan penjual untuk mengadakan ragam kegiatan daur ulang ponsel.
Selama periode ini, negara-negara di Eropa dan Amerika telah membuat undang-undang yang mengalihkan tanggung jawab daur ulang ponsel ke pihak produsen, seperti undang-undang daur ulang limbah elektronik di berbagai negara bagian AS, WEEE Directive (Waste Electrical and Electronic Equipment) di Uni Eropa, dan undang-undang di Jepang yang mendorong daur ulang produk elektronik kecil bekas.

Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat daur ulang komponen ponsel di Eropa, AS, dan Jepang mencapai taraf lebih dari 15%.
Di lain pihak, tingkat daur ulang ponsel di Taiwan telah meningkat menjadi 12% pada tahun 2022, yang mana ini adalah pencapaian rekor tertinggi. Meski demikian, pihak berwenang di Taiwan menyampaikan bahwa masih ada ruang perbaikan yang dapat ditingkatkan.
Menurut survei yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup memperlihatkan bahwa ada lebih dari 50% masyarakat menyimpan ponsel bekas di rumah dan tidak membawanya untuk didaur ulang.
Beberapa alasan yang membuat warga lebih memilih menyimpan ponsel bekas mereka meliputi ketidaktahuan tentang lokasi daur ulang, kurangnya insentif yang ditawarkan, dan kekhawatiran perihal kebocoran data pribadi.