(Taiwan, ROC) -- Para pejabat senior Taiwan dan Prancis menggelar pertukaran publik untuk pertama kalinya terkait dengan kesetaraan gender pada Kamis (9/11). Wakil Kepala Urusan Politik dari Komite Sains Nasional Taiwan, Chen Yi-juang (陳儀莊) dan Duta Besar sekaligus Sekretaris Jenderal Forum Kesetaraan Gender Kementerian Luar Negeri Prancis, Delphine O hadir dalam acara tersebut. Delphine O diundang oleh lembaga pemikir Prancis untuk mengadakan dialog online guna membuka jalan bagi kerja sama masa depan mengenai kesetaraan gender antara Taiwan dan Prancis.
Lembaga pemikir ternama Prancis, “Institute for International and Strategic Relations” (IRIS) menggelar seminar publik dengan video pada 9 November dengan tema “Kesetaraan Gender: Perbandingan antara Prancis – Taiwan” dan mengundang Chen Yi-juang serta Delphine O sebagai pembicara secara online.
Seminar ini diselenggarakan bersama oleh Direktur IRIS Program Penelitian Indo-Pasifik Barthelemy Courmont, peneliti senior Marie-Cecile Naves, di mana penelitiannya menganalisis situasi saat ini, kebijakan, serta tantangan dalam mempromosikan kesetaraan gender antara Taiwan dan Prancis. Ini merupakan kali pertama para pejabat tinggi dari Taiwan dan Prancis berkomunikasi secara publik terkait dengan kesetaraan gender, memperlihatkan keinginan yang tinggi dari kedua belah pihak untuk terus mempromosikan kerja sama dan pertukaran antara Taiwan dan Prancis, berdasarkan nilai-nilai kebersamaan.
Dalam seminar tersebut, Chen Yi-juang menyebutkan, bahwa pemerintah Taiwan terus mempromosikan kebijakan kesetaraan gender sejak 2005. Saat ini, indeks paritas gender Taiwan menempati peringkat ke-7 di dunia dan peringkat pertama di Asia. Sejumlah data menunjukkan bahwa pengaruh wanita Taiwan di berbagai bidang telah meningkat secara signifikan, seperti dalam partisipasi politik. Di tahun 2021, jumlah legislator Taiwan mencapai 42%, tertinggi di Asia.
Ia juga mengungkapkan, bahwa Taiwan, mulai dari tingkat pendidikan secara aktif terus mendorong perempuan muda Taiwan untuk menerobos pembatasan peran gender yang diberlakukan oleh adat istiadat budaya tradisional dan secara aktif berpartisipasi dalam bidang yang secara tradisional didominasi laki-laki, seperti teknologi dan sains berdasarkan minat dan keahlian mereka sendiri.
Taiwan telah mendapatkan hasil dalam promosi kesetaraan gender dan menjadi model dalam kesetaraan gender di Asia. Di masa depan, pemerintah akan terus mengimplementasikan perkembangan kesetaraan gender yang berkelanjutan dalam segala bidang, sehingga Taiwan dapat terus maju dengan masyarakat yang lebih beragam dan saling menghormati.
Dalam seminar tersebut, Duta Besar Kesetaraan Gender Prancis Delphine O menyebutkan bahwa Taiwan dan Prancis merupakan salah satu yang terbaik di dunia dalam mempromosikan kesetaraan gender. Namun, Prancis masih memiliki ruang untuk mempromosikan kesetaraan gender, seperti perbedaan pembayaran berdasarkan gender.
Delphine telah mempromosikan kesetaraan gender di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) selama beberapa tahun. Ia mengutarakan, bahwa mempromosikan kesetaraan gender bukanlah hal yang mudah dan ia telah menerima penolakan dari berbagai pihak selama periode tersebut. Ia menekankan, bahwa jalan menuju kesetaraan gender secara global masih cukup panjang dan melawan ketidaksetaraan gender membutuhkan dukungan bersama dari komunitas internasional serta masyarakat sipil. Undang-undang progresif penerapan kesetaraan gender yang beragam juga diperlukan di berbagai negara.
Pertukaran publik pertama antara Taiwan dan Prancis terkait kesetaraan gender ini adalah untuk memberikan pemahaman pencapaian dan tantangan dari hasil kerja kesetaraan gender dari kedua belah pihak dan memikirkan langkah kerja sama di masa depan.
Tanggapan dari lembaga pemikir dan media ilmu politik cukup positif dan antusias. Para partisipan dari Prancis menyampaikan bahwa mereka belajar banyak dan memahami situasi perkembangan kesetaraan gender di Taiwan saat ini melalui tangan pertama.