(Taiwan, ROC) --- Menghadapi ancaman militer Tiongkok terhadap Taiwan, mantan Wakil Menteri Pertahanan AS, Michele Flournoy, Rabu hari ini (8/11) menekankan pentingnya melakukan pencegahan yang relevan.
Pernyataan tersebut disampaikannya melalui perhelatan "Dialog Keamanan Taipei 2023" yang diselenggarakan oleh Institut Penelitian Keamanan Nasional (INDSR).
Dia menekankan bahwa AS dan komunitas internasional harus bekerja sama untuk membuat persiapan yang memadai, agar pemimpin Tiongkok Xi Jin-ping (習近平) mengetahui akan risiko dan biaya yang harus dikeluarkan, jika mengerahkan pasukan militer mereka menyerang Taiwan.
Flournoy juga setuju dengan strategi perang asimetris yang saat ini dilakukan oleh Taiwan. Namun demikian, AS dan sekutu tetap perlu memastikan kekuatan mereka di kawasan Indo-Pasifik, dan terus membantu Taiwan meningkatkan kemampuan pertahanan diri.
INSDR menyelenggarakan "Dialog Keamanan Taipei 2023", dan mantan Wakil Menteri Pertahanan AS, Michele Flournoy, diundang untuk memberikan kuliah khusus melalui sambungan video.
Dia pertama-tama menjelaskan situasi geopolitik selama 30 tahun terakhir dan perubahan global yang terjadi pada dewasa ini, termasuk situasi Ukraina dan Timur Tengah serta upaya kekuatan besar dari Tiongkok untuk mengubah tatanan internasional yang berbasis aturan.
Selain itu, komunitas internasional juga menghadapi tantangan yang lebih kompleks, seperti perubahan iklim, pandemi, pengaruh teknologi seperti kecerdasan buatan dan komputasi kuantum.
Flournoy lebih lanjut menganalisis situasi Indo-Pasifik dan Selat Taiwan. Ia juga kemudian menerangkan perihal perbedaan antara Xi Jin-ping dan pendahulunya, Hu Jin-tao (胡錦濤), yang lebih fokus pada pembangunan ekonomi.
Xi telah menanggalkan topengnya dan menekan lebih banyak melalui ancaman militer dan ekonomi. Oleh karena itu, dalam menghadapi ancaman Tiongkok yang beraneka ragam, maka kita juga harus mengubah strategi yang ada.
Di samping itu, Michele Flournoy juga menyampaikan 5 pandangannya. Pertama, AS, sekutu, Taiwan, dan komunitas internasional harus bersama-sama membuat persiapan yang cukup, agar Xi Jin-ping menyadari bahwa risiko memulai serangan militer adalah keputusan yang salah, serta membutuhkan biaya yang besar, dan tidak akan berhasil.
Kedua, ia menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan sekutu dan para mitra, serta bagaimana bekerja sama menghadapi tantangan, dan bersama bertindak menanggapi tindakan negatif Tiongkok.
Sementara itu, dalam hal pertahanan kolektif, yang terpenting adalah terus membantu meningkatkan kemampuan pertahanan diri Taiwan. Michele Flournoy mengatakan, "Saya pikir pendekatan asimetris dan perencanaan pertahanan berlapis yang kalian ambil sangat penting untuk mempersulit niat militer Tiongkok. Namun, di samping itu, saya pikir AS dan sekutu serta mitra juga perlu untuk terus memastikan kapabilitas di wilayah ini."
Poin ketiga adalah tekanan ekonomi dari Tiongkok, di mana Flournoy juga menekankan pentingnya kerja sama untuk meningkatkan ketahanan rantai pasokan.
Poin keempat adalah perlunya terus mempercepat inovasi dan kekuatan teknologi. Dan poin terakhir, Michele Flournoy berpendapat bahwa interaksi dengan Tiongkok masih perlu dilakukan, mengingat kerja sama masih dibutuhkan dalam isu-isu seperti perubahan iklim, dan juga komunikasi diperlukan untuk mengurangi ketegangan dan risiko.
Mengenai interaksi dengan Tiongkok, pertemuan Jo Biden dengan Xi Jin-ping mungkin akan berlangsung pada pertengahan bulan ini. Michele Flournoy menunjukkan bahwa kedua negara tidak akan mengubah kebijakan utama mereka, dan isu-isu yang dapat dikerjakan kemungkinan tidak akan terlalu banyak.
Menjaga komunikasi di sektor militer juga perlu dilakukan, untuk menciptakan ruang untuk kepentingan bersama.
Michele Flournoy menyampaikan bahwa usaha dialog memberikan kesempatan bagi AS untuk 'mendidik' pihak lain dan berbagi pandangan yang berbeda.