(Taiwan, ROC) --- Baru-baru ini, Perdana Menteri Chen Chien-jen (陳建仁) menyatakan bahwa energi nuklir adalah energi hijau. Pernyataan yang dilontarkan saat sidang interpelasi tersebut, sontak saja memicu diskusi hangat.
Saat ditemui Rabu hari ini (1/11), Menteri Ekonomi, Wang Mei-hua (王美花), kembali menegaskan bahwa Taiwan saat ini tidak mengklasifikasikan energi nuklir sebagai energi hijau. Dia juga menyebutkan bahwa apa yang dimaksud oleh PM Chen adalah inklusi energi nuklir dalam pembiayaan hijau oleh Uni Eropa. Setelah dilakukan diskusi lebih intens, baru-baru ini energi nuklir dimasukkan ke dalam daftar tersebut.
Menjelang pemilihan presiden 2024 yang semakin dekat, isu energi kembali menjadi fokus perdebatan. Pada Selasa kemarin (31/10), PM Chen dengan tegas menyatakan bahwa "energi nuklir adalah energi hijau". Dia juga mengatakan bahwa jika pengembangan energi nuklir di masa depan dapat mencapai fusi nuklir, tentu saja ini akan menjadi sesuatu yang sangat menggembirakan.
Pernyataan ini juga menimbulkan pertanyaan dari beberapa pihak tentang apakah Partai Progresif Demokrat (DPP) mengubah kebijakan energinya.
Mengenai hal tersebut, Menko Wang Mei-hua pada Rabu pagi hari (1/11), kembali menekankan bahwa Taiwan saat ini tidak mengklasifikasikan energi nuklir sebagai energi hijau, dan Pembangkit Listrik Nuklir No. 3 akan digunakan sesuai peraturan, hingga masa berlakunya habis pada tahun 2025.
Wang Mei-hua menuturkan bahwa setiap negara memiliki definisi yang berbeda, dan apa yang dimaksud oleh PM Chen adalah inklusi energi nuklir dalam pembiayaan hijau oleh Uni Eropa.
Menko Wang mengatakan, “Faktanya, setiap negara, Uni Eropa, terutama ketika mereka mendiskusikan apakah akan memasukkan energi nuklir ke dalam bagian pembiayaan hijau, setelah diskusi yang sangat intens, akhirnya mereka memasukkannya. Jadi, ini mengacu pada bagian pembiayaan energi hijau.”
Menteri Wang Mei-hua juga menyebutkan bahwa banyak perusahaan di Taiwan berorientasi pada ekspor dan menghadapi persyaratan RE100 serta rantai pasokan. RE100 tidak memasukkan energi nuklir sebagai bagian dari energi hijau, dan rantai pasokan merek internasional seperti Apple juga secara eksplisit menyatakan bahwa energi nuklir tidak termasuk dalam kategori energi hijau.
Oleh karena itu, saat ini sebagian besar masih tidak menganggap energi nuklir sebagai energi hijau.
Menteri Wang melanjutkan bahwa dalam hal fusi nuklir, kesulitan terbesar Taiwan dalam menggunakan energi nuklir adalah kondisi geografis yang berada di daerah rawan gempa, dan masalah berikutnya adalah persoalan limbah nuklir.
Namun demikian, teknologi fusi nuklir tidak menghasilkan limbah nuklir, sehingga ia memiliki pandangan terbuka terhadap inovasi yang akan tercipta di masa mendatang.