(Taiwan, ROC) —- Setelah gempa bumi berkekuatan 4.8 SR sempat mengguncang kawasan lepas pantai Taitung pada Senin malam (23/10), perairan timur Taiwan kembali diguncang gempa berkekuatan 6.2SR dan 5.1SR pada Selasa pagi kemarin (24/10).
Rentetan gempa yang terjadi tentu saja membuat banyak warga merasa cemas. Tidak lama setelah gempa terjadi, beberapa warga Taitung menemukan sekumpulan cacing muncul dari tanah di area pekarangan luar rumah. Mereka pun penasaran apakah sekumpulan cacing ini “bergerak” karena mampu mendeteksi gempa bumi lebih awal.

Salah seorang Warganet mengunggah postingan di komunitas online 台東大小事 (baca: 台東大小事) di Facebook, menuliskan, ketika ia melewati Taman Sanjiao (三角公園) pada Selasa pagi (24/10), sekitar pukul 07:50, ia melihat sekumpulan cacing muncul dari tanah dan bergerak secara berkelompok menuju jalanan.
Setelah postingan tersebut diunggah, banyak warga setempat yang meninggalkan komentar seperti, "Seluruh area penuh dengan cacing."
Beberapa di antara mereka bahkan menyangkutpautkan pergerakan cacing-cacing tersebut dengan musibah gempa bumi dahsyat yang akan terjadi pada masa mendatang.
"Mungkin akan ada gempa bumi besar lagi! Terakhir kali saat terjadi gempa besar, cacing-cacing juga muncul," tulis salah seorang netizen.

Media di Taiwan, China Times (中時新聞網) mewartakan, seorang profesor dari Fakultas Ilmu Kehidupan di Universitas Taitung, Lu Pei-luen (呂佩倫), menjelaskan bahwa alasan utama cacing muncul dari tanah adalah karena hujan deras yang disebabkan oleh taifun Koinu pada beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, curah hujan lebat tersebut kemudian mengakibatkan air meresap ke dalam sarang cacing, memaksa mereka untuk keluar. Gempa bumi yang terjadi belakangan ini hanyalah faktor sekunder.
Selain itu, Lu Pei-luen juga menambahkan, beberapa warga baru-baru ini menemukan bahwa rumah mereka yang awalnya bersih dan rapi tiba-tiba dipenuhi kumpulan kecoak, tikus, atau semut, yang ternyata semuanya juga terpengaruh oleh dampak taifun Koinu.
Ia mengungkapkan bahwa taifun tidak hanya mempengaruhi lingkungan hidup manusia, tetapi juga merusak lapisan bawah tanah yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Lu Pei-luen memperkirakan, perilaku migrasi hewan-hewan ini mungkin akan berlanjut selama sekitar tiga bulan ke depan.