History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Festival Chongyang: Asal Muasal, Tradisi, dan Kebiasaan

  • 23 October, 2023
  • 尤繼富
Festival Chongyang: Asal Muasal, Tradisi, dan Kebiasaan
Festival Chongyang: Asal Muasal, Tradisi, dan Kebiasaan. Sumber Foto: Sound of Hope

(Taiwan, ROC) --- Festival Chongyang jatuh pada tanggal 9 bulan 9 dalam penanggalan kalendar Lunar (Imlek). Di Taiwan, perayaan ini biasanya dihubungkan dengan aktivitas untuk menghormati para lansia dan pemberian uang sebagai bentuk penghargaan kepada mereka.

Namun, tradisi Chongyang ternyata memiliki berbagai ritual yang menarik, yang bisa dibilang mengintegrasikan nilai kebudayaan dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Beberapa tradisi Festival Chongyang meliputi:

- Mendaki gunung

- Menikmati keindahan bunga krisan (Chrysanthemum) dan minum anggur krisan

- Memakai daun Cornelian Chery (Cornus Mas)

- Menerbangkan layang-layang

- Makan kue Chongyang

- Berjalan-jalan di alam terbuka

- Memperingati leluhur

- Memberikan persembahan kepada Dewi Doumu, Sembilan Kaisar, Kaisar Fengdu, dan Pangeran Nezha

- Memanah

- Makan terong

- Makan nasi dengan kastanye

- Memperingati bunga krisan

- Menghormati kue kura-kura merah.

Ada beberapa versi cerita tentang asal-usul Festival Chongyang, salah satu yang sering dikisahkan adalah legenda Huan Jing dari Dinasti Han Timur.

Menurut legenda dari Dinasti Han Timur, ada seorang pria bernama Huan Jing (桓景) di Kabupaten Runan (汝南縣) yang menghadapi wabah besar di daerah tempat tinggalnya, yang mengakibatkan kematian kedua orangtuanya.

Huan Jing kemudian pergi ke gunung di tenggara untuk belajar ilmu, di mana dia diberi Pedang Naga Hijau oleh seorang pertapa bernama Fei Chang-fang (費長房). Huan Jing rajin belajar dan berlatih dengan sangat keras.

Suatu hari, Fei Chang-fang memberi tahu Huan Jing bahwa pada tanggal 9 bulan 9, roh jahat yang menyebabkan wabah akan datang lagi. Ia memberikan Huan Jing sebungkus daun Cornelian Chery dan sebotol anggur krisan untuk membantu mengusir roh jahat tersebut.

Huan Jing kemudian kembali ke kampung halamannya, dan pada tanggal 9 bulan 9, dia memimpin keluarganya dan penduduk desa untuk mendaki gunung terdekat.

Mereka semua membawa daun Cornelian Chery, yang membantu melindungi mereka dari roh jahat. Setelah meminum anggur krisan, mereka berhasil menghindari wabah. Huan Jing berhasil mengalahkan roh jahat dengan pedangnya.

Sejak itu, tradisi mendaki gunung pada Festival Chongyang dan kisah heroik Huan Jing telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Kisah heroik Huan Jing yang menghadapi wabah besar di daerah tempat tinggalnya, menjadi salah satu cerita yang sering diceritakan ke generasi berikutnya saat festival Chongyang. Sumber Foto: Lingoace

Di Taiwan, perayaan festival Chongyang saat ini telah diberi makna baru. Tradisi dan modernitas bersatu-padu, menjadikannya hari khusus bagi para lansia.

Seluruh kawasan di Taiwan, termasuk lembaga pemerintahan, organisasi, dan komunitas, biasanya akan mengatur kegiatan rekreasi musim gugur bagi para lansia yang telah pensiun, memungkinkan mereka untuk menikmati pemandangan, bermain di dekat air, atau mendaki gunung.

Banyak generasi muda juga akan mengajak lansia di dalam keluarga mereka untuk beraktivitas di luar rumah atau menyiapkan makanan dan minuman yang lezat untuk mereka.

Festival Chongyang juga menjadi waktu yang tepat bagi banyak orang yang bekerja atau tinggal di luar kota untuk pulang dan mengunjungi kerabat mereka, menyiapkan makanan sehat atau mi kaki babi, sebagai doa dan harapan untuk kesehatan dan umur panjang bagi para lansia.

Chongyang 重陽 = Chongjiu 重九

Menurut kalender lunar, festival Chongyang jatuh pada tanggal 9 bulan 9. "Chongyang 重陽" juga disebut "Chongjiu 重九", yang berarti "ganda sembilan".

Dalam karya literatur "I Ching", angka sembilan dianggap sebagai angka positif. Sehingga, tanggal 9 bulan 9, dengan dua angka sembilan yang saling tumpang tindih, disebut Chongyang.

I Ching (易經) adalah salah satu dari lima klasik konfusianisme yang dikenal juga dengan sebutan “Buku Perubahan” atau “Klasik Perubahan”.

Karena "sembilan sembilan 九九" dalam Bahasa Mandarin memiliki bunyi yang sama dengan kata "lama久久", ini juga memberikan konotasi untuk "umur panjang".

Dan pada akhirnya, Festival Chongyang juga berkembang menjadi "Hari Menghormati Lansia", dengan harapan setiap orang tua dapat menikmati kekayaan dan umur panjang.

Cao Pi (曹丕) pernah menulis kepada Zhong Yao (鍾繇), "Tanggal sembilan bulan sembilan adalah hari umur panjang, saat yang baik untuk berkumpul." Tidak heran, jika orang zaman dahulu menganggapnya sebagai hari yang penuh berkah.

Festival Chongyang jatuh pada tanggal 9 bulan 9. "Chongyang 重陽" juga disebut "Chongjiu 重九", yang berarti "ganda sembilan". Sumber Foto: Lingoace

 

Bunga Krisan Mewarnai Meriahnya Festival Chongyang

Di masa lalu, ada tradisi mendaki gunung selama Festival Chongyang berlangsung, sehingga kadang-kadang juga disebut "Festival Mendaki".

Pada hari ini, orang-orang akan keluar untuk menikmati pemandangan, mendaki gunung, menikmati keindahan bunga krisan, memakai daun Cornelian Chery, makan kue Chongyang, dan minum anggur krisan.

Pada saat musim gugur tiba, bunga krisan akan mekar dengan indahnya. Pada zaman dahulu, para intelektual dan penyair sangat memuja kecantikan bunga krisan yang memiliki daya tahan mumpuni meski didera oleh hawa super dingin.

Bunga krisan hadir dengan keindahannya yang sangat beragam, sehingga tidak heran kalau ia mampu menarik perhatian banyak orang. Sifatnya yang tangguh dan kuat membuat banyak orang kagum.

Oleh karena itu, banyak penyair kuno dari berbagai dinasti Tiongkok sering menuangkan syair pujian terhadap bunga krisan di dalam karya-karya mereka.

Bahkan seorang pemberontak terkenal, Huang Chao (黃巢), pernah menulis sebuah puisi tentang bunga krisan yang menggambarkan perasaannya.

Berdasarkan catatan sejarah "Meng Liang Lu 夢梁錄," orang-orang pada Dinasti Song setiap tahunnya pada festival Chongyang akan memasukkan bunga krisan dan buah Cornelian Chery ke dalam minuman mereka.

Mereka juga memberi sebutan kiasan pada bunga krisan dan buah cheri dengan nama yang indah, dengan menyebut bunga krisan sebagai "Tamu yang Dapat Memperpanjang Umur" dan buah cheri sebagai "Petua yang Mengusir Rasa Takut."

Bunga krisan adalah bunga yang menjadi ciri khas saat festival Chongyang tiba. Sumber Foto: Lingoace

 

Mendaki dan Menjelajahi Alam

Menurut karya literatur klasik Tiongkok, "Catatan-catatan Beragam dari Ibu Kota Barat 西京雜記", tradisi mendaki gunung pada festival Chongyang dimulai sejak Dinasti Han.

Pada saat festival Chongyang, cuaca mulai sejuk, menjadikannya waktu yang tepat untuk mendaki gunung. Sejak zaman dahulu, para cendekiawan dan penyair selalu menikmati suasana musim gugur sambil mendaki gunung di hari festival Chongyang. Tidak heran jika kemudian banyak puisi yang kemudian ditulis untuk menggambarkan keindahan alam.

Hingga saat ini, mendaki gunung telah menjadi kegiatan yang sangat disukai banyak warga di Taiwan. Orang-orang memanfaatkan hari libur untuk mendaki bersama keluarga, menyegarkan pikiran, melatih fisik, dan memperdalam hubungan sosial.

Di Taiwan saat ini, terdapat banyak jalur pendakian yang tersedia untuk masyarakat. Kegiatan mendaki gunung tidak hanya dilakukan saat musim gugur, tetapi telah menjadi salah satu aktivitas luar ruangan yang paling disukai oleh masyarakat.

Yang lebih mengesankan lagi adalah kesadaran masyarakat Taiwan akan lingkungan, dimana banyak yang menghargai dan menjaga kelestarian alam.

Kementerian Pendidikan di Taiwan kemudian mengikuti tradisi mendaki gunung di festival Chongyang, menetapkan tanggal 9 bulan 9 dalam kalender Lunar sebagai Hari Olahraga, guna mempromosikan semangat kebugaran masyarakat.

Tradisi mendaki gunung pada festival Chongyang dimulai sejak Dinasti Han. Sumber Foto: Lingoace

Komentar

Terbarumore