(Taiwan, ROC) --- Restoran yang mendapatkan rekomendasi dari sertifikat Michelin sering kali menarik minat banyak orang untuk mendatangi dan mencoba.
Namun, baru-baru ini sebuah restoran Italia di Nangang, Taipei, menjadi sorotan banyak netizen, setelah seorang pelanggan mengungkapkan bahwa uang muka sebesar NT$ 7600 disita karena mereka terlambat datang selama 5 menit.
Keterlambatan di atas bukan tidak beralasan. Pelanggan bersangkutan menyampaikan bahwa mereka datang telat karena hendak mencari tempat parkir. Perlakuan dari restoran tersebut pun akhirnya memicu banyak perhatian dan diskusi hangat jagat maya di Taiwan.

Keluh kesah sang Warganet dituangkan melalui unggahan di platform medsos Taiwan, yakni, PTT, dengan judul "Terlambat 5 menit, Booking Fee NT$ 7600 Melayang".
Sang Warganet berkisah bahwa ia bersama dengan teman-temannya makan di restoran Italia bersertifikat Michelin tersebut pada bulan Februari lalu. Mereka juga diberi tahu oleh salah teman dekat, bahwa ketentuan makan di restoran bersangkutan cukup ketat, yakni tidak boleh terlambat atau pemilik restoran tidak akan mengizinkan mereka masuk.
Warganet bersangkutan kemudian menuliskan, "Makanannya unik, tetapi rasa dan penyajiannya sangat biasa saja, hampir tidak ada sayur-mayur yang disajikan, tetapi banyak menggunakan lemon. Ketika memberitahu pemilik bahwa makanan penutup mereka terlalu asam, sang pemilik malah menjawab bahwa makanan yang disajikan memang seharusnya seperti itu, dan sikapnya terasa sedikit angkuh."
Sang Warganet dan teman-teman lainnya berpendapat bahwa restoran tersebut memiliki aroma asap yang kuat dan tidak sebanding dengan standar yang diberlakukan Michelin.
Sang pengunggah postingan juga memposting foto makanan dan struk pembayaran. Dari foto tersebut, menu telur dan pasta Italia kemudian menjadi perbincangan hangat para netizen.
Di samping itu, sang pengunggah juga memperlihatkan sebuah menu makanan yang terdiri dari sebuah telur dengan sayuran yang tampak seperti asparagus . Beberapa netizen menemukan bahwa menu makanan tersebut ternyata dibanderol dengan harga NT$ 780/porsi.
Ada juga netizen yang menemukan menu yang sama dari 6 tahun yang lalu, di mana ada makanan yang terdiri dari asparagus dengan keju tanpa telur, dengan harga NT$ 290.
"6 tahun lalu harganya hanya NT$ 290, dengan tambahan satu telur harganya naik hampir NT$ 500. Selain itu, porsi pasta sangat sedikit, hanya seukuran satu gigitan," terang salah seorang netizen

Setelah postingan tersebut diunggah, banyak netizen mengungkapkan kekecewaannya dengan memberikan komentar berupa sindiran.
"Piring yang bagus. Jadi ini standar Michelin, yaitu menyajikan dalam porsi kecil. Syukurlah saya suka makan banyak, jadi saya tidak akan makan di sana," tulis netizen lainnya.
Tidak sedikit netizen yang kemudian mengkritisi menu dari restoran bersangkutan, "Porsi untuk satu orang NT$ 4300? Penyajian makanannya biasa saja. Mereka bahkan berani menyajikan telur dadar. Porsi pasta itu membuat saya tertawa."
Mengenai tindakan dari pemilik restoran yang menyita Booking Fee dikarenakan terlambat 5 menit, pejabat perlindungan konsumen Kota Taipei, 龔千雅, mengatakan, "Jika konsumen terlambat, lalu menyita semua booking fee, sepertinya tidak adil bagi konsumen dan melanggar prinsip kesetaraan dan timbal balik. Konsumen dapat mengajukan keluhan terkait konsumsi kepada pemerintah kota."
Sampai saat ini, restoran tersebut belum memberikan tanggapan terhadap tuduhan tersebut dan tetap beroperasi seperti biasa.