History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Insiden Patah Tulang di Taiwan Jadi yang Tertinggi di Asia

  • 21 October, 2023
  • 許秀玉
Insiden Patah Tulang di Taiwan Jadi yang Tertinggi di Asia
Insiden Patah Tulang di Taiwan Jadi yang Tertinggi di Asia

(Taiwan, ROC) -- Insiden tulang retak di Taiwan menduduki peringkat pertama di Asia dan peringkat ke-9 di dunia. Dokter mengingatkan bahwa orang dengan usia 65 tahun, bahwa tingkat kematian orang dengan usia 65 tahun ke atas (lansia) dalam 1 tahun setelah mengalami patah tulang pinggul lebih tinggi daripada kematian karena kanker. Osteoporosis merupakan “pembunuh tak kasat mata” saat patah tulang. Jika dibandingkan, lansia perempuan lebih beresiko patah tulang daripada lansia tua

Setiap tanggal 18 Oktober diperingati sebagai Hari Menopause Sedunia. Asosiasi Obstetri dan Ginekologi Taiwan menggunakan “osteoporosis” sebagai tema tahun ini. Kepala Departemen Obstetri dan Ginekologi dari RS Chi Mei sekaligus Direktur Eksekutif Asosiasi Obstetri dan Ginekologi Taiwan, Tsai Yung-chieh (蔡永杰) menyampaikan, bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasikan osteoporosis sebagai penyakit paling umum kedua di dunia setelah penyakit jantung dan kemungkinan separuh kasus dari patah tulang pinggul terjadi di Asia.

Tsai Yung-chieh menyampaikan bahwa karena adanya perbedaan kebiasaan makan dan kondisi fisik, orang-orang Asia lebih sedikit mengonsumsi produk-produk susu dan secara umum memiliki asupan kalsium yang tidak mencukupi, dengan kepadatan tulang yang lebih rendah dibandingkan rata-rata orang Barat. Mereka lebih beresiko terkena osteoporosis, khususnya pada wanita, terlebih pada wanita yang telah mengalami menopause. Setelah memasuki masa menopause, sekresi estrogen yang menjaga keseimbangan antara pengeroposan dan struktur tulang menurun dengan cepat, dan laju pengeroposan tulang semakin cepat, sehingga lebih mudah terjadi patah tulang tanpa sengaja.

Tsai Yung-chieh mengemukakan, bahwa Taiwan tidak mengalami kekurangan nutrisi dan sinar matahari, tapi kejadian patah tulang merupakan peringkat pertama di Asia. Penyebab utamanya masih belum diketahui, tapi tingkat osteoporosis di Taiwan sangatlah tinggi. Diperkirakan, 1 dari 3 wanita di Taiwan mengalami osteoporosis dan resiko ini lebih tinggi daripada kanker. Namun, tidak ada tanda-tanda osteoporosis yang terjadi, sehingga banyak nenek yang baru mengetahui dirinya mengalami osteoporosis setelah tidak sengaja terjatuh di kamar mandi atau tangga dan mengalami patah tulang.

Osteoporosis adalah penurunan kepadatan tulang dan kualitas tulang seiring dengan bertambahnya usia. Patah tulang akibat osteoporosis tidak boleh dianggap remeh. Tsai Yung-chieh mengingatkan bahwa lebih dari 100,000 orang di Taiwan mencari perawatan medis untuk patah tulang setiap tahunnya. Dalam data analisis dari populasi para lansia berusia di atas 65 tahun adalah 32% dari populasi secara total, di mana perbandingan laki-laki 28% dan 72% pada perempuan. Perbedaannya cukup besar. Berdasarkan statistik, tingkat kematian pada lansia akibat patah tulang pinggul mencapai 14-36%, lebih tinggi daripada tingkat kematian pasien kanker.

Menjaga pola makan seimbang merupakan kunci untuk mencegah osteoporosis. Tsai Yung-chieh meminta masyarakat untuk mengonsumsi cukup kalsium dan vitamnin D, sebab kalsium merupakan komponen utama bagi tulang yang bisa didapatkan dari berbagai produk olahan susu, kacang-kacangan, dan sayuran berdaun hijau. Vitamin D membantu penyerapan kalsium dan dapat didapat melalui paparan sinar matahari setiap hari, atau didapat dari mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D.

Sebagai tambahan, latihan olahraga ringan juga penting untuk kesehatan tulang. Tsai Yung-chieh mengungkapkan, bahwa latihan inti merupakan pilihan yang baik. Latihan menahan beban, seperti berjalan, berlari, dan menari, serta latihan kekuatan otot seperti angkat beban dapat mempromosikan kesehatan tulang dan meningkatkan kepadatan tulang. Latihan keseimbangan, seperti yoga dan taichi juga dapat membantu meningkatkan kemampuan keseimbangan tubuh dan mengurangi resiko jatuh.

Wakil Dirjen Administrasi Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan (MOHW) Wei Shi-lun (魏璽倫) mengungkapkan bahwa para wanita rata-rata akan mulai mengalami masa menopause di usia 51 tahun. Berdasarkan rata-rata sisa hidup seorang wanita, sepertiganya akan dilalui dengan menopause, sehingga perawatan kesehatan sangatlah penting. Selain osteoporosis, penyakit jantung juga menjadi ancaman utama. Menurut data statistik, jumlah kasus penyakit ini merupakan ketiga tertinggi bagi wanita yang berusia di atas 45 tahun, 1-2 kali lipat lebih tinggi daripada wanita yang berusia 19-44 tahun.

Wei Shi-lun mengingatkan para wanita untuk mengingat “hati, pergerakan, kenyamanan, dan makanan”, bertemu dengan teman-teman untuk saling bercakap-cakap, menjaga kebiasaan untuk olah raga secara teratur, menguasai teknik menenangkan dan relaksasi, menggabungkannya dengan latihan keseimbangan. dan pola makan yang tepat, serta pemeriksaan kesehatan orang dewasa secara teratur untuk mendeteksi risiko sejak dini.Faktor-faktor tersebut dapat membuat menopause lebih lancar, bahagia, dan sehat.

(foto: Canva)

Komentar

Terbarumore