(Taiwan, ROC) Hasil penelitian yang diumumkan dalam beberapa hari terakhir ini, seiring dengan suhu udara yang semakin tinggi, maka dunia berkemungkinan dihadapi dengan periode lembap dan panas akan mencapai tingkat yang mematikan, sejumlah milyaran orang akan mengalami kesulitan bertahan hidup, terutama dari Delhi hingga Shanghai dan kota-kota besar di dunia.
Laporan menyebut, pemanasan semakin ekstrem, suhu udara tinggi dan kelembapan yang tinggi dapat menyebabkan kematian, lebih lanjut akan meluas hingga kawasan Amerika Barat Tengah.
Penulis studi dari Universitas Purdue, Matthew Huber menyampaikan kepada Reuters, “Hal ini sangat meresahkan, ini akan menyebabkan banyak orang berobat ke ruang gawat darurat.”
Riset ini dilakukan Matthew Huber bersama Daniel Vecellio pakar klimatologi dari George Mason University, Ia beranggapan tanpa ada bantuan dari perangkat peneduh atau AC pendingin, di bawah kondisi suhu semakin panas maka melampaui kemampuan tubuh manusia.
Riset mendapati, apabila suhu udara meningkat 2 derajat dibandingkan masa sebelum reformasi industri, diprakirakan periode panas selama 1 minggu akan memakan korban jiwa berkisar 750 juta jiwa per tahun. Menurut artikel yang termuat jurnal PNAS akademi AS menyampaikan, apabila suhu udara naik 3 derajat Celsius, maka akan menjadi ancaman bagi 1,5 milyar jiwa.
Menurut laporan dari United Nations Emissions Gap tahun 2023, di bawah kebijakan pemerintah saat ini, hingga tahun 2100 ke depan, diprakirakan suhu udara dunia akan naik 2,8 derajat Celsius.
Indonesia, Pakistan dan negara-negara Teluk Persia dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami cuaca panas dan lembap yang berisiko, namun riset mendapati apabila suhu udara dunia semakin panas, mulai dari Lagos Nigeria hingga Chicago, Illinois dan beberapa kota utama di AS juga akan mendapat pengaruh.