(Taiwan, ROC) - Taiwan mencapai tonggak sejarah pada hari Senin dengan keberhasilan peluncuran Triton, satelit cuaca perdana yang diproduksi di dalam negeri yang juga dikenal sebagai Satelit Pemburu-Angin dan dirancang untuk membantu memprediksi cuaca ekstrem secara akurat.
Satelit tersebut diluncurkan dari Guyana Prancis pada hari Minggu pukul 22.37 waktu setempat sebagai bagian dari misi berbagi tumpangan Arianespace Vega C, dan dijadwalkan mengorbit pada ketinggian sekitar 550-650 kilometer, menurut Badan Antariksa Taiwan (TASA).
Direktur Jenderal TASA Wu Jong-shinn (吳宗信) sebelumnya mengatakan kepada pers bahwa proyek Triton, yang dimulai pada tahun 2013, akhirnya mencapai tahap peluncuran setelah 10 tahun kerja keras.
Wu menekankan bahwa peluncuran Triton adalah upaya pertama Taiwan dalam menggunakan satelit cuaca buatan dalam negeri dan komponen yang digunakan dirancang dan diproduksi secara lokal, termasuk sistem reflektometri satelit navigasi global (GNSS-R).
Wu, yang dikenal sebagai "Paman Roket" (火箭阿伯) di Taiwan karena sikapnya yang rendah hati, mengatakan bahwa peluncuran satelit tersebut akan membawa perubahan dan membantu Taiwan menjadi pengekspor data meteorologi yang penting.
Nama satelit ini mengambil inspirasi dari mitologi Yunani. Dewa Laut Triton yang merupakan putra Poseidon mewarisi trisula yang melambangkan dominasi maritim dan memegang keong dengan kekuatan mengendalikan angin dan ombak.
Fungsi utama Triton akan mencakup pengumpulan data angin permukaan laut dan melengkapi data medan angin radar darat untuk membantu memprediksi jalur topan dan curah hujan lebat dengan lebih akurat.
Wu menggarisbawahi pentingnya Triton menggunakan 11 komponen dan teknologi utama buatan Taiwan yang terkait dengan pengembangan satelit. “Jika Taiwan berhasil mengatasi tantangan-tantangan lingkungan luar angkasa, hal ini akan menghasilkan data yang berharga, memberikan dukungan besar bagi Taiwan untuk menjadi pemain dalam rantai pasokan luar angkasa global,” katanya.
Namun, Wu mengakui bahwa investasi Taiwan dalam program luar angkasa secara historis tertinggal dan baru mulai menunjukkan tanda-tanda menjanjikan yang signifikan pada tahun ini.
Sebagai perbandingan, lanjutnya, Korea Selatan yang memulai investasi program luar angkasa pada awal tahun 1990-an, menganggarkan dana empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan Taiwan.