(Taiwan, ROC) --- Sebuah insiden kebakaran melanda toko ban Zheng Yi (正義) di Kota Hsinchu pada bulan Juni tahun 2022 lalu. Tersangka, Chen Yen-hsiang (陳彥翔), menuangkan bensin dan menyulut api, setelah terlibat perselisihan dengan keluarganya. Akibat insiden ini, delapan anggota keluarga terdekat Chen, termasuk empat anak-anak tewas terbakar mengenaskan.
Pengadilan Distrik Hsinchu pada Kamis kemarin (28/9) mengeluarkan putusan, menjatuhkan hukuman mati kepada Chen Yen-hsiang dan mencabut hak-hak sipilnya seumur hidup. Keputusan tersebut masih dapat diajukan banding. Chen Yen-hsiang mendengar putusan tersebut melalui telekonferensi.
Saat mendengarkan putusan hakim, Chen terlihat tenang dan sempat memejamkan mata beberapa saat.

Hakim menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya dengan alasan pembunuhan terhadap anggota keluarga terdekat, dan mencabut seluruh hak sipilnya seumur hidup. Meski Chen terus menyangkal perbuatannya, tetapi panel hakim menilai bahwa cara Chen menghabisi nyawa keluarganya sangat kejam.
Di samping itu, tindakan Chen saat menyulut api juga sangat terencana, yang mengakibatkan anggota keluarganya tidak bisa keluar menyelamatkan diri. Atas pertimbangan tersebut, pihak hakim akhirnya tetap berpegang pada putusan vonis mati.
Liao Su-chi (廖素琪,) Ketua Pengadilan Administratif Daerah Hsinchu, menguraikan bahwa Chen Yen-hsiang memiliki kesulitan finansial akibat hutang. Ia seringkali bertengkar dengan orangtuanya mengenai tanggung jawab dan pekerjaan di toko ban.
Pengadilan menambahkan, Chen Yen-hsiang tinggal di lantai dua toko ban Zheng Yi, bersama orang tuanya, istri, kakak ipar, tiga anak kandungnya, dan keponakan perempuan, total sembilan orang.
Chen diketahui memiliki utang karena kalah judi dan kondisi keuangan yang buruk, yang seringkali menjadi sumber perselisihan dengan orang tuanya.
Pada tanggal 15 Juni 2022 silam, sekitar pukul 09:40 malam, Chen kembali bertengkar hebat dengan orang tuanya karena masalah rumah tangga. Selepas bertengkar, Chen keluar untuk membeli bensin dan kembali ke rumah untuk menyiramkannya di lantai pertama toko ban, lalu menyulutnya dengan korek api.
Pengadilan menambahkan, saat kejadian, ibu Chen berusaha menyelamatkan keluarganya dengan berlari ke kamar tidur di lantai dua, tetapi karena api yang melalap dengan cepat, ia dan tujuh anggota keluarga lainnya yang berada di dalam akhirnya terjebak dan tidak dapat menyelamatkan diri.
Hanya ayah Chen yang berada di lantai satu dan dekat dengan pintu keluar yang berhasil selamat dari insiden kebakaran.

Chen Yen-hsiang (kiri) diamankan polisi setelah api tidak lama melalap kediamannya.
Menurut pengadilan, Chen selalu merasa kalau orang tuanya lebih memihak kepada saudara kandungnya dan diperlakukan tidak adil. Hanya karena permasalahan sepele di rumah tangga dan pertengkaran dengan orang tuanya, ia melakukan tindakan pembakaran.
Jumlah bensin yang ditumpahkannya sangat banyak dan cukup luas, api menyebar sangat cepat menewaskan delapan anggota keluarga yang tinggal bersamanya, termasuk empat anak kecil.
Mereka semua terjebak dan tidak bisa menyelamatkan diri, mengakibatkan kerugian yang tidak dapat dipulihkan, termasuk kehilangan nyawa anak-anak yang masih muda dan tidak bersalah.
Pihak hakim berpendapat bahwa menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Chen tidak sesuai dengan tingkat keseriusan perbuatannya. Oleh karena itu, hakim memutuskan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Chen, dan mencabut seluruh hak sipilnya seumur hidup. Keputusan ini masih dapat diajukan banding.