(Taiwan, ROC) -- Selain perdebatan telur impor yang terus berlangsung, untuk menyelesaikan masalah “pencucian tempat produksi” dari produk telur curah, Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan (MOHW) Hsueh Jui-yuan (薛瑞元) hari ini (27/9) menyampaikan, akan menyosialisasikan pelabelan dari jalur utama sumber pemasokan telur ayam, dengan masa percobaan selama 6 bulan dan dimulai dari 4 merek waralaba besar yang bersedia.
Adanya pengusaha yang menjadikan telur impor sebagai telur curah, tetapi pelabelan menuliskan produksi dari Taiwan yang dikhawatirkan menjadi “pencucian tempat produksi”. Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Hsueh Jui-yuan (薛瑞元) ketika diinterpelasi di Yuan Legislatif menyampaikan, produk telur segar yang melalui proses pengolahan menjadi telur kecap, telur teh, telur lunak dan lainnya atau dalam arti terdapat perubahan definisi maka harus memberikan pelabelan, bisa berdasarkan tempat pemrosesan pengolahan Telur “Taiwan” tetapi hal ini berbeda dengan pemikiran dari masyarakat, untuk itu MOHW akan menyosialisasikan pelabelan dari jalur utama sumber pemasokan, diperkirakan akan memerlukan waktu selama 6 bulan untuk masa percobaan, dan saat ini 4 perusahaan waralaba besar telah bersedia untuk melaksanakannya.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dalam jumpa pres yang digelar pada pagi hari ini (27/9) membeberkan akan melakukan uji coba dengan waktu 6 bulan mulai 25 September 2023, terlebih dulu mengutamakan jalur percobaan melalui waralaba besar, dan untuk cakupan jenis adalah telur matang, telur teh, telur kecap, telur lunak dan lainnya yang dijual secara eceran, metode pelabelan akan mengikuti peraturan pelabelan produk makanan eceran, yaitu berbentuk penempelan kartu label atau papan label, atau papan label gantung atau cara lainnya untuk memudahkan konsumen mengidentifikasikan dengan jelas.