(Taiwan, ROC) --- Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan (MOHW) tengah mencanangkan pelonggaran perekrutan PMA di sektor perawat kepada tiga kelompok masyarakat, tanpa lagi harus memperlihatkan skor dari Barthel Indeks (巴氏量表 baca: Bā shì liàng biǎo).
Dengan kebijakan baru ini, diperkirakan sekitar 600 ribu warga akan memperoleh manfaat.
Keputusan ini tentunya akan meringankan beban sebagian keluarga yang selama ini harus bersusah payah untuk mendapatkan izin perekrutan PMA.
Namun, beberapa asosiasi di Taiwan mengungkapkan kekhawatiran mereka.
Asosiasi bersangkutan meragukan jumlah PMA yang ada, guna memenuhi kebutuhan masyarakat di lapangan.
Di samping itu, mereka juga mencemaskan perihal akan terabaikannya pasien yang memiliki gejala lebih kritis/parah. Mereka khawatir jika nantinya PMA akan cenderung memilih untuk merawat pasien dengan kondisi/gejala yang lebih ringan.
Asosiasi-asosiasi ini juga kembali menyoroti pentingnya pembuatan rencana secara menyeluruh, yang berkaitan dengan pelatihan dan evaluasi bagi perawat asing.

Taiwan Alzheimer’s Disease Association (TADA) rutin menggelar aktivitas pembelajaran bagi para lansia. Dalam setiap kelas yang diadakan, dapat terlihat banyak para orang tua yang datang untuk turut berpartisipasi. Dan kebanyakan diantaranya pasti ditemani oleh PMA perawat asing.
Hal ini mencerminkan bahwa peran para perawat asing di Taiwan menjadi semakin krusial seiring berjalannya waktu.
Meskipun MOHW berencana memberlakukan pelonggaran perekrutan PMA perawat, tetapi ada kecemasan yang ternyata muncul di kalangan asosiasi.
Sekjen TADA, Chen Yun-jing (陳筠靜), menyatakan, "Setelah kelonggaran ini diberlakukan, kami berharap akan ada integrasi yang lebih erat antara perawat asing dengan sistem perawatan jangka panjang, sehingga keseluruhan layanan dapat tersusun rapi dalam satu mekanisme perawatan yang terpadu."

Rencana pelonggaran kebijakan ini tentunya memberikan kemudahan bagi banyak keluarga, sehingga mereka tidak perlu lagi bersusah payah membawa pasien kesana kemari hanya untuk mendapatkan skor dari Barthel Index.
Ada 3 kelompok yang akan mendapat manfaat dari kebijakan ini meliputi, mereka yang telah menerima perawatan selama lebih dari 6 bulan, pasien demensia dengan tingkat ringan atau lebih, serta pasien dengan gangguan fisik atau penyakit langka tanpa lagi memandang tingkat keparahan penyakit yang ada.
Diperkirakan sekitar 600.000 warga yang akan memperoleh manfaat dari kebijakan ini.
Meskipun MOHW memperkirakan tidak setiap keluarga akan mengajukan permohonan, sehingga kebutuhan permintaan terhadap perawat asing diperkirakan hanya akan meningkat sekitar 20.000 hingga 30.000 orang.
Namun, banyak asosiasi di Taiwan yang mulai khawatir bahwa ini akan membuat pasien dengan kebutuhan perawatan tingkat tinggi kesulitan mendapatkan tenaga perawat.

Sumber Foto: TVBS News
Sekjen Taiwan Association of Family Caregivers (TAFC), Chen Jing-ning (陳景寧) mengatakan, "Sebagian besar perawat asing akan lebih memilih untuk merawat pasien dengan kondisi penyakit yang lebih ringan, sehingga ada kemungkinan mereka akan menghindari merawat pasien dengan kondisi penyakit yang lebih berat atau kompleks."
Sementara itu, Chen Yun-jing menambahkan, "Sangat disayangkan jika ada yang membutuhkan namun tidak mendapatkan pelayanan."
MOHW telah mengambil langkah besar dengan melonggarkan kriteria perekrutan PMA di sektor perawat rumah tangga.
Namun, ketika pintu dibuka lebar-lebar bagi perawat asing, muncul pertanyaan apakah keluarga yang benar-benar membutuhkan perawatan, nantinya akan semakin kesulitan mendapatkan sumber daya perawatan?
Apakah pelatihan untuk tenaga kerja migran dapat lebih ditingkatkan? Berbagai asosiasi merasa pesimis dengan kesiapan pemerintah dalam menghadapi perubahan ini.