History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

TLAM ke-8 Karya Pemenang Berpotensi Dijadikan Film dan Sinetron Televisi

  • 10 September, 2023
  • 尤繼富
TLAM ke-8 Karya Pemenang Berpotensi Dijadikan Film dan Sinetron Televisi
Penghargaan Sastra Migran ke-8 Berlangsung di Museum Taiwan Nasional

(Taiwan, ROC) -- Pesta penyerahan Penghargaan Sastra Migran ke-8 (Taiwan Literature Award for Migran/TLAM) berlangsung hari ini, Minggu 10 September 2023, karya-karya pemenang dalam penghargaan kali ini meliputi ungkapan cinta akan keluarga, kebimbangan dan kehidupan, identitas jati diri serta aspek-aspek lainnya. Yang berhasil meraih juara pertama adalah Vo Thi Diem Thu asal dari Vietnam dengan karyanya “Kenangan Bunga Mawar’ (Bahasa Vietnam Ký ức hoa hồng), ini merupakan yang kedua kalinya Vo Thi Diem Thu menyabet juara pertama. Panitia penyelenggara menyampaikan, karya-karya dari pemenang juara pertama akan dikumpulkan dan diterbitkan, beserta karya-karya yang menarik lainnya juga akan diabadikan melalui film.

Seiring dengan film “What the Hell is Love”, “Port of Lies” dan karya film lainnya yang membahas secara mendalam kisah dari pekerja migran dalam film nasional, telah berhasil menarik respons dan pembicaraan hangat serta menjadikan pekerja migran menjadi salah satu fokus perhatian publik untuk akhir-akhir ini.

Pemberian Penghargaan Sastra Migran ke-8 (Taiwan Literature Award for Migran/TLAM) yang penyelenggaraannya berlangsung di Museum Nasional Taiwan pada hari ini (10/9), Vo Thi Diem Thu yang berasal dari Vietnam untuk kedua kalinya berhasil mendapat juara pertama, kali ini dengan karya berjudul “Kenangan Bunga Mawar” melalui tulisannya mengungkapkan kerinduannya. Sementara karya yang berhasil memenangkan penghargaan pilihan juri adalah karya berbahasa Indonesia yang berjudul “Asah: Batu yang menjadi giok” yang dikirimkan oleh penduduk migran baru asal Indonesia bernama Chin Nyap-fong (陳業芳), karya yang menceritakan manis dan pahitnya kehidupan perkawinan. Chin Nyap-fong  mengatakan, “Kisah ini adalah kisah kehidupan nyata dirinya sendiri, tantangan yang paling besar adalah tidak tahu bagaimana menuliskan Bahasa Taiyu ke Bahasa Indonesia, akhirnya hanya bias menulis ‘khàu-iau’, tidak berharap yang membaca kisah saya ini menjadi menaruh kasihan, tetapi berharap dapat menempatkan hal-hal yang menarik ke dalamnya.”

Yang patut diperhatikan adalah Chen Xiao-zhen yang berasal dari Thailand yang kali ini dengan kisahnya “Siapa Aku” (Bahasa Thailand ฉันคือใคร) di mana karya ini berhasil mendapat dua penghargaan sekaligus yaitu juara pilihan juri dan juara karya kaum muda yang direkomendasikan. Karya tulisan yang mengisahkan bagaimana mencari jati diri dan pada saat yang bersamaan juga menjadi titik awal berharap orang-orang yang di tengah kebimbangan dan merasa terlantar dapat dengan kuat dan tegar menjalani kehidupan mereka.

Juara pilihan diraih oleh 3 orang yaitu Ririn Arumsari dari Indonesia dengan karya “Kisah Sepi” berbagi cerita perannya sebagai perawat pasien, membeberkan analisanya akan rasa kesepian dari orang yang dirawatnya, yang lainnya adalah karya berbahasa Tagalog “Kebebasan” (Bahasa Tagalog: Kalayan) dari Melinda yang mengisahkan pelecehan seksual yang dialaminya pada masa kecil.

Juara karya pemuda yang direkomendasi juri selain diraih oleh Chen Xiao-zhen berjudul “Siapa Aku”, juga ada karya dari Roniel D. Molina dari Filipina berjudul “Ibu” dan berbahasa Vietnam dari Nguyễn Nhật Huy dengan judul “Kontainer Beku” (Bahasa Vietnam: Thùng lạnh).

Chairperson Radio Taiwan Internasional Cheryl Lai yang merupakan bagian dari penyelenggara kegiatan ini menyampaikan bahwa kisah-kisah migran ini dapat dituangkan melalui tim film dan televisi, agar dapat tersebar luas ke makin banyak orang, selain itu Radio Taiwan Internasional memikul tanggung jawab untuk menyampaikan suara Taiwan dan suara dari penduduk migran baru dan pekerja mingran ini pada dunia. Chairperson Rti Cheryl Lai mengatakan, “Ini menjadi alasan mengapa Radio Taiwan Interntional sangat peduli dengan kegiatan penghargaan seperti ini, karena ini juga merupakan suara dari Taiwan, ini adalah semangat dari Rti untuk menyampaikan suara dari Taiwan, suara dari penduduk migran dan pekerja migran yang juga adalah suara dari Taiwan.”

Dalam Penghargaan Sastra Migran ke-8 ini berhasil mengumpulkan 195 karya yang meliputi karya dalam Bahasa Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, Myanmar dan lainnya, terdapat 33 karya yang berhasil masuk dalam nominasi, pada akhirnya terpilih 7 karya ungulan yaitu karya juara pertama meraih uang tunak sebesar NT$100.000 (sekitar Rp.47.850.000), juara pilihan juri mendapat hadiah uang tunia NT$80.000 (sekitar Rp.38.280.000), dan juara pilihan pemuda dan rekomendasi juri masing-masing mendapatkan uang tunai sebesar NT$20.000 (sekitar Rp.9,5 juta).

Komentar

Terbarumore