History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Ratusan Orang Unjuk Rasa di Taipei untuk Mempertahankan Momentum #MeToo

  • 28 August, 2023
  • 陳志勇
Ratusan Orang Unjuk Rasa di Taipei untuk Mempertahankan Momentum #MeToo
Ratusan Orang Unjuk Rasa di Taipei untuk Mempertahankan Momentum #MeToo

(Taiwan, ROC) - Sekitar 200 orang berpartisipasi dalam sebuah aksi unjuk rasa di Taipei pada hari Minggu untuk menyerukan upaya berkelanjutan dalam mengatasi insiden pelecehan seksual di Taiwan.

Aksi tersebut diadakan sebagai upaya untuk mempertahankan momentum gerakan "#MeToo" Taiwan, hampir tiga bulan sejak tuduhan yang dilontarkan oleh staf Partai Progresif Demokratik (DPP) memicu prihatin nasional atas pelanggaran seksual di Taiwan, yang kemudian melibatkan serangkaian tokoh politik, hiburan dan bisnis berprofil tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di tengah hujan lebat, para pengunjuk rasa berangkat dari Stasiun MRT Ximending pada pukul 14.00, di mana para korban pelecehan seksual berbagi cerita kepada massa saat berjalan melingkar melalui Taman Memorial 228, termasuk salah satu yang mengidentifikasi dirinya dengan nama “JC” yang menggambarkan bagaimana dia mengatasi traumanya sendiri, dan mendesak masyarakat untuk tidak hanya "menyalahkan pihak korban."

Turut hadir adalah legislator partai DPP Fan Yun (范雲) yang memenangkan gugatan pelecehan seksual terhadap anggota parlemen partai oposisi Kuomintang (KMT) Chen Hseuh-sheng (陳雪生) awal tahun ini. Melalui pidatonya, Fan berharap undang-undang dan pendidikan seputar kesetaraan gender bisa diperkuat, juga menyoroti perlunya perubahan budaya di Taiwan.

Salah satu penyelenggara kegiatan, Cheng Yi-hsuan (鄭益瑄), mengatakan bahwa sementara perhatian terfokus pada para penyintas pelecehan dan penyerangan seksual berprofil tinggi, kelompok mahasiswa yang ikut serta dalam aksi demo tersebut percaya bahwa solidaritas perlu ditunjukkan pada semua korban.

Menurut Cheng, tujuan aksi unjuk rasa ini adalah untuk meningkatkan kesadaran publik akan meluasnya kekerasan seksual, dan menunjukkan kepada mereka yang pernah mengalami pelecehan seksual dan tetap berkomitmen pada perjuangannya bahwa “mereka tidak sendirian."

Selain kegiatan unjuk rasa di jalanan, sebuah pameran juga digelar secara bersamaan pada hari Minggu untuk menyampaikan tuntutan aksi demo, menerangkan isi undang-undang pelecehan seksual yang baru diamandemen, dan menguraikan kisah-kisah pribadi para penyintas.

Komentar

Terbarumore