History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Wawancara Eksklusif William Lai di Bloomberg News, Pertegas Kerja Sama Mitra Demokrasi

  • 15 August, 2023
  • 尤繼富
Wawancara Eksklusif William Lai di Bloomberg News, Pertegas Kerja Sama Mitra Demokrasi
Wawancara Eksklusif William Lai di Bloomberg News, Pertegas Kerja Sama Mitra Demokrasi

(Taiwan, ROC) --- Media Bloomberg News hari ini (15/8) menerbitkan wawancara eksklusif mereka bersama dengan kandidat presiden yang saat ini juga menjabat Wakil Presiden ROC, William Lai (賴清德). Pada saat yang sama, Bloomberg juga mengumumkan bahwa William Lai akan menjadi sampul dalam majalah “Bloomberg Businessweek” untuk edisi berikutnya.

Dalam wawancara bersangkutan, Wapres William Lai menyampaikan, masalah Selat Taiwan adalah isu yang sangat serius yang harus dihadapi dengan sangat hati-hati dan rasional, dengan harapan seluruh pihak dapat bergerak maju untuk menghadapi perubahan situasi regional.

Beliau melanjutkan, diharapkan seluruh komunitas dunia dapat berdiri bersama dengan Taiwan membela nilai demokrasi. Di lain pihak, Taiwan juga senantiasa bersedia untuk memberikan kontribusinya kepada masyarakat dunia.

Dalam wawancara tersebut, William Lai juga menekankan bahwa pemilu kali ini memiliki dua jalur. Pertama, terus melakukan pertukaran dan kerja sama berkelanjutan dengan komunitas internasional. Kedua, kembali ke prinsip awal, yakni Kebijakan Satu Tiongkok. Namun demikian, Taiwan akan terus meningkatkan kemampuan pertahanan nasionalnya dan bekerja sama dengan mitra demokrasi untuk mencegah ancaman atau tantangan yang terus dilancarkan oleh pihak Tiongkok.

Media Bloomberg News mengangkat tema wawancara eksklusif kali ini dengan tajuk, “He Wants to Lead Taiwan. But Can He Keep the Peace?”. Bloomberg News kemudian mengutip pernyataan William Lai yang berbunyi, “Perdamaian adalah tujuan kami dan demokrasi adalah kompas kami”, pada masa mendatang kami akan terus memperdalam kerja sama dengan negara-negara sehaluan untuk menjaga perdamaian regional.

Artikel tersebut juga menuliskan bahwa kemungkinan terjadinya konflik di lintas selat sangat minim, William Lai di lain pihak akan terus mempertahankan status-quo di Selat Taiwan dan meningkatkan keamanan Taiwan.

Ketika ditanya perihal situasi regional, William Lai menyampaikan, masalah keamanan Taiwan patut mendapat perhatian dunia. Menjaga stabilitas di Selat Taiwan dan Indo-Pasifik juga menjadi kepentingan bersama bagi semua negara di dunia.

Pada masa mendatang, Taiwan akan terus melanjutkan “4 Ketahanan” yang pernah dipromosikan oleh Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文). Di samping itu, Taiwan akan berdasar pada “4 Pilar” untuk kemudian mengambil bagian dalam mendukung perdamaian dan status quo di Selat Taiwan.

Pada saat yang sama, Taiwan akan bekerja sama dengan mitra demokrasi untuk menstabilkan hubungan diplomatik, serta mendorong partisipasi internasional Taiwan, melakukan kerja sama di sektor rantai perindustrian, bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

William Lai menekankan, pemilu kali ini dapat terbagi ke dalam 2 jalur. Pertama, melanjutkan pertukaran dan kerja sama internasional, serta memperdalam nilai demokrasi. Dan yang kedua adalah kembali menerima Prinsip Satu Tiongkok.

Ia selaku Wakil Presiden selalu menyambut baik seluruh peluang untuk mempromosikan perdamaian dengan seluruh pihak. Namun sayangnya di lain pihak, otoritas Beijing tidak pernah menghentikan ancamannya terhadap Taiwan.

Taiwan di lain pihak akan terus meningkatkan kemampuan pertahanannya dan senantiasa menggelar kerja sama dengan mitra demokrasi yang ada. William Lai juga bertekad untuk membela kepentingan nasional dan ia akan memikul penuh tanggung jawab yang ada untuk memelihara stabilitas kawasan.

Sebelumnya, William Lai juga dikenal sosok “Sosok Pembela Kemerdekaan Taiwan Pragmatis”. Dan ketika ditanya perihal, “Apakah rakyat Taiwan benar-benar menginginkan kemerdekaan?”, William Lai menerangkan bahwa apa yang disebut dengan pragmatis adalah hal-hal yang fakta. Dan sudah menjadi fakta kalau Taiwan selama ini adalah negara berdaulat dan merdeka, dengan nama resmi adalah Republik Tiongkok. Dan Republik Tiongkok ini sama sekali bukan bagian dari Republik Rakyat Tiongkok.

William Lai melanjutkan, Republik Tiongkok dengan Republik Rakyat Tiongkok tidak berkaitan antara satu dengan yang lain. Oleh sebab itu, mereka tidak perlu mendeklarasikan kemerdekaan masing-masing secara terpisah.

Dan apakah William Lai akan mempertimbangkan untuk mulai menggunakan nama resmi Republik Tiongkok? Menjawab hal tersebut, Beliau menuturkan, nama resmi saat ini dan yang juga diakui oleh konstitusi adalah Republik Tiongkok. Untuk mempersatukan Taiwan, maka Presiden Tsai Ing-wen menggunakan nama Republik Tiongkok (Taiwan) yang notabene merujuk kepada Republik Tiongkok itu sendiri.

Dirinya juga berjanji akan terus mempromosikan hal serupa pada masa mendatang. “Tidak ada perubahan lain atas nama negara,” lanjut William Lai.

William Lai menekankan, dirinya siap untuk mengemban tanggung jawab mempertahankan status quo di Selat Taiwan, melindungi Taiwan, mempromosikan demokrasi, perdamaian dan kemakmuran. Oleh karena itu, tidak ada yang disebut dengan “jalan untuk merdeka”, melainkan harus mempertahankan status quo yang damai dan stabil, karena Taiwan di lain pihak sudah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat.

Komentar

Terbarumore