(Taiwan, ROC) -- Pertemuan Kelompok Kerja Sama IETO-TETO ke-10 diadakan pada tanggal 9 dan 10 Agustus di Bali, Indonesia. Menurut Kementerian Tenaga Kerja, dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak mencapai banyak kesepakatan, termasuk mengkonfirmasi dokumen pendaftaran untuk merekrut pekerja migran di sektor pertanian dan peternakan. Paling cepat, pekerja migran pertanian dari Indonesia dapat masuk ke Taiwan mulai bulan September.
Kementerian Tenaga Kerja Taiwan (MOFA) mengumumkan pada 10 Agustus bahwa dalam pertemuan ini, kedua belah pihak mengajukan 15 isu terkait pengelolaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan, Pekerja Teknis Tingkat Menengah (PTTM), serta perlindungan hak pekerja migran. Setelah diskusi yang menyeluruh, kedua belah pihak mencapai 8 kesimpulan penting. Di antaranya, termasuk kesepakatan untuk segera memastikan dokumen pendaftaran perekrutan pekerja migran di sektor pertanian dan peternakan, serta pihak Indonesia juga akan segera memastikan prosedur pendaftaran, validasi kontrak kerja, dan sistem pendaftaran untuk memfasilitasi perekrutan pekerja migran di sektor pertanian dan peternakan yang diharapkan dapat diimplementasikan pada bulan September.
Selain itu, kedua belah pihak telah sepakat untuk bersama-sama mendorong "Program Mempekerjakan Pekerja Migran Jangka Panjang", yang akan memfasilitasi peralihan PMI di Taiwan menjadi PTTM dan menyederhanakan proses pengajuan. Keduanya juga setuju untuk terus mempromosikan kerja sama perekrutan langsung PMI dan memperluas cakupan rekrutmen langsung hingga mencakup pekerja perawat di institusi. Selain itu, kedua pihak sepakat untuk memperketat penanganan terhadap pelanggaran biaya berlebih oleh perusahaan agensi, serta setuju untuk bersama-sama meninjau dan menyesuaikan isi kontrak kerja PMI yang datang bekerja di Taiwan, sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku di Taiwan.
MOFA mengatakan, pihak Indonesia juga setuju untuk meningkatkan pendidikan dalam program pelatihan sebelum memberangkatkan pekerja ke luar negeri, agar PMI yang datang bekerja di Taiwan memperhatikan larangan bekerja ilegal dan mewaspadai penipuan, serta mencegah pelanggaran terhadap privasi pribadi dan kejahatan pidana, seperti penyalahgunaan narkoba dan perdagangan narkoba.
MOFA mengatakan, kedua belah pihak akan secara aktif merencanakan dan mendorong hal-hal terkait sesuai dengan kesimpulan pertemuan. Beberapa isu yang perlu diteruskan pembahasannya akan didiskusikan melalui konferensi video online sesuai kebutuhan.

(sumber foto: Pixabay)