(Taiwan, ROC) – Kelompok amal “Yayasan Bantu-membantu / 幫幫忙基金會” yang terdiri dari warga Taiwan di Amerika Serikat (AS) menyumbangkan sebanyak 3 kontainer bantuan medis dan kebutuhan pokok ke perbatasan antara Thailand dan Myanmar, guna membantu lebih dari 1,5 juta pengungsi Myanmar yang terlantar.
Pendiri Yayasan Bantu-membantu Tina Bow (鮑潘曉黛) pada Senin (24/7) mengemukakan, setelah lebih dari 2 tahun sejak kudeta militer di Myanmar, beberapa sistem di negara tersebut seperti sekolah, rumah sakit dan bank turut lumpuh, menyebabkan penderitaan bagi rakyatnya. Maka dari itu, Yayasan Bantu-membantu telah bekerja sama dengan “Pusat ThaBarWa” yang memiliki ratusan cabang di Myanmar untuk menyediakan bantuan.
Menanggapi permintaan di lokasi, dalam pengiriman 3 kontainer ke Myanmar kali ini, sebagian besar berisikan peralatan medis, kemudian diikuti oleh barang-barang kebutuhan pokok untuk masyarakat.
Seiring terjadinya pergolakan dinamika politik di Myanmar menyebabkan berbagai sektor pemerintahan di dalam negeri terhenti, dan banyak kuil Buddha di kalangan masyarakat saat ini pun berubah fungsi menjadi tempat penampungan dan bantuan. Sayadaw Ottamathara, selaku kepala biara Pusat ThaBarWa yang bekerja sama dengan Yayasan Bantu-membantu dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Senin (24/7) yang lalu, mengucapakan terima kasih atas bantuan berupa barang-barang amal yang disumbangkan oleh masyarakat Taiwan di AS.
Tina Bow (鮑潘曉黛) menyampaikan, kuil-kuil di Myanmar saat ini berperan sebagai rumah sakit, tempat penampungan dan juga sekolah. Barang-barang bantuan medis dan kebutuhan pokok yang disumbangkan akan dikirim ke Thailand, serta kemudian akan diserahkan kepada para Bhikkhu di Pusat ThaBarWa untuk diangkut melintasi perbatasan Thailand-Myanmar, serta didistribusikan di Myanmar oleh para anggota kuil.
Tina Bow (鮑潘曉黛) telah mendirikan Yayasan Bantu-membantu lebih dari 20 tahun yang lalu dan telah mengumpulkan lebih dari 500 kontainer bantuan yang telah didistribusikan ke seluruh dunia. Tahun lalu (2022), dirinya meraih “Medali Kehormatan Hai Hua” oleh Komite Tionghoa Perantauan (OCAC) sebagai pengakuan atas dedikasinya.