(Taiwan, ROC) --- Media United Daily News (UDN) mewartakan bahwa Yuan Eksekutif pernah menggelar pertemuan rahasia pada bulan Juni tahun lalu dan Januari tahun ini, untuk kemudian membahas topik perihal permintaan Amerika Serikat untuk mengembangkan persenjataan biologis.
Menanggapi pemberitaan dari UDN di atas, Yuan Eksekutif hari ini (12/7) merilis pernyataan yang membantah laporan bersangkutan. Yuan Eksekutif menambahkan, laporan yang disampaikan oleh UDN tidak berdasar dan tidak dikonfirmasi terlebih dahulu.
Juru Bicara Yuan Eksekutif, Lin Tze-Luen (林子倫) menyampaikan bahwa pertemuan rahasia yang dimaksud adalah tanggal 23 Juni 2022, padahal di kala tersebut Yuan Eksekutif tengah menghelat rapat 3808. Dalam rapat di kala itu, mantan Perdana Menteri Su Tseng-chang (蘇貞昌) juga hadir dan memimpin rapat. Tidak ada pembahasan yang sama sekali menyinggung perihal persenjataan biologis.
Pemberitaan dari media UDN perihal adanya pertemuan rahasia untuk membahas permintaan AS mengembangkan persenjataan biologis sebenarnya telah dibantah oleh pihak Kementerian Pertahanan (MND), Kementerian Luar Negeri (MOFA) dan Istana Kepresidenan.
Lin Tze-Luen hari ini menyampaikan bahwa media bersangkutan sudah seharusnya melakukan prosedur verifikasi sebelum menerbitkan berita yang ada. Seluruh rapat yang dihelat oleh Yuan Eksekutif memiliki catatan rapat yang memuat waktu, tempat, nama ketua rapat, peserta rapat, laporan, diskusi, saran PM dan waktu selesai rapat.
Format dan konten seperti Konferensi Keamanan Publik atau Konferensi Kesetaraan Gender, dapat dilihat melalui jaringan publik yang ada.
Lin Tze-Luen menyampaikan, konten media UDN juga menyertakan catatan rapat dari pertemuan rahasia yang dimaksud. Namun demikian, mereka tidak menyertakan unit mana yang membuat catatan bersangkutan.
Lin Tze-Luen menambahkan bahwa ini adalah praktik pemalsuan yang tidak pantas ditiru. Apalagi catatan rapat yang disertakan juga menggunakan tata bahasa yang tidak biasa digunakan oleh rapat Yuan Eksekutif sebelumnya.
Lin Tze-Luen menuturkan, unit relevan baik dari Taiwan maupun Amerika Serikat, telah berulang kali menyatakan komitmennya untuk mematuhi “Konvensi Sejata Biologis”, serta tidak akan melanggar ketentuan di dalamnya, termasuk mengembangkan persenjataan biologis.
Ia juga sangat menyesalkan tindakan dari media UDN yang tidak melakukan verifikasi terhadap sumber berita, yang bisa berujung pada kekacauan opini publik.
Lin Tze-Luen menyampaikan, Yuan Eksekutif akan mempertimbangkan untuk menyertakan konten dari pemberitaan yang ada ke dalam model pembahasan melawan informasi palsu.
Selain melakukan penyanggahan, Yuan Eksekutif juga akan meminta pihak terkait untuk memenuhi tanggung jawab mereka sebagai peran media dan memperbaiki konten-konten yang tidak benar. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar informasi palsu tidak menyebar luas, yang dicemaskan bisa mengakibatkan kepanikan sosial.
Media melaporkan bahwa Tentara Nasional ROC (Republik Tiongkok) mengadakan pertemuan rahasia atas permintaan Amerika Serikat untuk mengembangkan persenjataan biologis.
Menanggapi pemberitaan di atas, Departemen Luar Negeri AS menyampaikan, bahwa laporan yang ada tidak memiliki dasar yang faktual. AS sekali lagi menyatakan komitmennya untuk mematuhi ketentuan “Konvensi Senjata Biologis”,
United Daily News (UDN) baru-baru ini mewartakan, pihaknya menerima informasi yang menyampaikan bahwa otoritas AS telah meminta Institute of Preventive Medicine yang berada di bawah naungan Kementerian Pertahanan untuk menanamkan investasi dalam pendirian laboratorium P4 yang baru.
Di samping itu, AS juga mengadakan pertemuan rahasia untuk mencanangkan standar kemampuan penelitian dan pengembangan virus serta mengembangkan persenjataan biologis.
Pada tanggal 11 Juli 2023, kepada media Central News Agency (CNA), Juru Bicara Deplu AS membantah laporan tersebut, menilai bahwa ini adalah pemberitaan yang tidak benar dan berdasar (no truth to this report).
Jubir bersangkutan menekankan, AS sepenuhnya patuh terhadap ketentuan “Konvensi Senjata Biologis BWC”, yakni tidak mengembangkan atau memiliki fasilitas persenjataan serupa. AS juga tidak mendukung pihak mana pun untuk mengembangkan hal tersebut.
Kabar ini sendiri sebenarnya telah dibantah oleh Perwakilan AS di Taiwan (AIT), Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri.
AIT menyampaikan, AS menjadi salah satu pihak pertama yang menandatangani “Konvensi Senjata Biologis” yang disetujui pada tahun 1972.
Konvensi bersangkutan mulai berlaku semenjak tahun 1975, negara-negara anggota dilarang untuk mengembangkan, memproduksi, menimbun, memperoleh, menyimpan persenjataan biologis.
Di samping itu, negara anggota juga tidak diperbolehkan untuk memobilisasi, membantu, mendukung dan membujuk unit mana pun untuk memproduksi atau memperoleh persenjataan biologis, termasuk jenis racun, senjata, fasilitas perlengkapan dan media pengiriman.