(Taiwan, ROC) - Acara tahunan untuk memperingati tindakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa pro-demokrasi oleh otoritas Tiongkok di Beijing pada tanggal 4 Juni 34 tahun lalu, diadakan di Taipei pada hari Minggu.
Diikuti oleh ratusan orang, upacara dimulai pada pukul 18:40 di Gedung Memorial Chiang Kai-shek, diisi dengan pidato singkat oleh aktivis hak asasi manusia dalam dan luar negeri, pengunjuk rasa dan politisi Hong Kong yang berada di pengasingan, dan anggota parlemen Taiwan.
Wu Renhua (吳仁華), seorang cendekiawan Tiongkok dan peserta aksi protes di Lapangan Tiananmen Beijing pada tahun 1989, membuka acara dengan menyesali kurangnya peringatan atas peristiwa pembantaian tersebut di dunia berbahasa Mandarin di luar Taiwan.
Menurutnya, kelompok pro-demokrasi di Hong Kong sebelumnya mengadakan acara besar-besaran di Taman Victoria setiap tahun pada 4 Juni untuk mengenang para korban Peristiwa Tiananmen, tetapi otoritas Hong Kong melarang acara tersebut pada tahun 2020, dengan alasan kekhawatiran COVID-19.
Sejak itu, mereka menutup tempat tersebut bagi para aktivis atas nama pencegahan epidemi dan baru-baru ini atas nama untuk mencegah "kegiatan ilegal" di bawah undang-undang keamanan nasional. Sebagai gantinya, tutur Wu, sebuah karnaval pro-Beijing diadakan di taman tersebut tahun ini, membuat Taiwan sekarang satu-satunya negara di dunia berbahasa Mandarin yang secara terbuka dapat mengenang Peristiwa Pembantaian Tiananmen.
Ketua Sekolah Baru untuk Demokrasi (NSD) Tseng Chien-yuan (曾建元), yang merupakan kepala penyelenggara acara peringatan pada hari Minggu, mengatakan dalam pidatonya bahwa Pembantaian Tiananmen jelas merupakan sesuatu yang perlu diperingati Taiwan setiap tahun.
Itu karena rezim Partai Komunis Tiongkok yang secara brutal menindas rakyatnya sendiri pada tahun 1989, sekarang mengirim pesawat tempur dan kapal di sekitar Taiwan setiap hari dan mencoba mengintimidasi melalui paksaan militer, tukas Tseng.
Sekedar informasi, protes pro-demokrasi di Tiongkok yang dipimpin mahasiswa berawal pada 15 April 1989, berpusat di Lapangan Tiananmen di Beijing untuk secara damai menyerukan reformasi politik dan ekonomi. Pada tanggal 4 Juni 1989, Beijing memerintahkan militernya ke Lapangan Tiananmen untuk secara paksa mengakhiri protes yang dipimpin mahasiswa selama berminggu-minggu. Perkiraan kematian akibat penumpasan bervariasi dari beberapa ratus hingga beberapa ribu, meskipun Tiongkok tidak pernah merilis angka kematian resmi.
Untuk peringatan di Taipei tahun ini, selain acara Minggu malam, penyelenggara acara juga mengadakan pemutaran publik tiga film terkait gerakan demokrasi di Hong Kong dan Tiongkok pada sore hari di lokasi yang sama.
Sebuah "Pasar Demokratis" yang menampilkan stan-stan yang didirikan oleh penyelenggara juga dibuka untuk umum untuk berkabung dan memberikan penghormatan dengan meletakkan bunga.
Selama acara hari Minggu, beberapa perwakilan mahasiswa dari Asosiasi Mahasiswa Universitas Nasional Taiwan (NTU) bersama-sama menunjukkan dukungan untuk Lau Ka-yee (劉家儀), seorang mahasiswa pascasarjana NTU dan anggota kelompok aktivis Tiananmen Mothers.
Dia ditangkap oleh polisi Hong Kong pada hari Sabtu bersama tujuh orang lainnya saat berusaha memperingati Peristiwa Pembantaian Tiananmen 1989 di Causeway Bay.