(Taiwan, ROC) – Penyedia layanan keamanan informasi Check Point merilis laporan penelitian pada 15 Mei, menyampaikan bahwa berbagai organisasi di dunia rata-rata mengalami 1.248 serangan siber per minggu di kuartal pertama tahun ini, perhitungan tahunan meningkat 7%. Taiwan menjadi peringkat pertama di antara negara-negara lain dengan serangan organisasi sebanyak 3.250 per minggu, secara tahunan meningkat 24%.
Pemain industri keamanan informasi mengemukakan, meskipun jumlah serangan siber secara global tidak meningkat secara signifikan, tetapi ransomware dengan kecepatan enskripsi tercepat telah ditemukan baru-baru ini, dan metode serangan peretas kini semakin kompleks, dan mereka telah menggunakan peralatan legal untuk membuat keuntungan ilegal. Contohnya, para pelaku kriminal siber yang tidak terampil dalam teknologi juga dapat membuat kode menggunakan robot obrolan ChatGPT, memasukkan program Trojan horse ke dalam perangkat lunak komputer 3CX untuk meluncurkan serangan rantai pasokan, menyalahgunakan pemasangan antrian pesan Microsoft (Microsoft Message Queuing) dan kerentanan RCE (Remote Code Execution) secara kritis.
Pakar industri menyarankan, para kepala keamanan informasi perusahaan sebaiknya memperhatikan apakah segmentasi jaringan yang tepat telah diadaptasikan dalam organisasi untuk mencegah penyebaran serangan dan mengurangi dampak cakupannya. Di saat yang sama, mereka juga harus memperhatikan apakah pihak organisasi memiliki kemampuan untuk menanggapi insiden keamanan informasi, mengurangi waktu gangguan layanan dan mempercepat pemulihan.
Menurut survei ini, Afrika merupakan wilayah yang paling banyak mengalami serangan siber di kuartal pertama tahun 2023, dengan rata-rata 1.983 serangan institusi per minggu, tahun ini berkurang 2%. Wilayah Asia Pasifik mengalami peningkatan rata-rata tahunan terbesar, yaitu 16% dengan rata-rata serangan 1.835 kali per minggu.
Melalui perspektif industri global, institusi pendidikan dan penelitian adalah pihak yang paling parah terkena serangan siber di kuartal pertama tahun 2023, di mana setiap institusi rata-rata mengalami 2.507 serangan per minggu, dengan peningkatan tahunan sebesar 15%. Hal ini akibat dari banyaknya institusi yang beralih ke pelatihan online, tapi masih tidak dapat memastikan keamanan struktur jaringan dan titik-titik akses. Institusi pemerintah dan militer menjadi target terbanyak kedua, dengan rata-rata 1.725 serangan per minggu, peningkatan tahunannya adalah 3%.