History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Anti Penipuan di Taiwan, Tips Praktis untuk Para Pekerja Migran

  • 20 May, 2023
  • 尤繼富
Anti Penipuan di Taiwan, Tips Praktis untuk Para Pekerja Migran
Anti Penipuan di Taiwan, Tips Praktis untuk Para Pekerja Migran

(Taiwan, ROC) – Menurut data statistik resmi, jumlah pekerja migran di Taiwan adalah sebanyak 732.540 orang dan 581.274 pengantin asing hingga akhir bulan Maret tahun ini. Ditambah dengan pelajar asing tahun ajaran 111 (2022-2023) sebanyak 103.658 orang, maka warga asing di Taiwan berjumlah lebih dari 1,41 juta orang. Namun, karena keterbatasan bahasa dan lingkaran kehidupan, para pekerja migran mengalami kekurangan informasi asli, saluran verifikasi, dan lingkaran terpercaya. Organisasi nirlaba (NGO) lokal dan asing bekerja sama untuk mengumpulkan dan memilah berbagai metode penipuan umum, mengusulkan beberapa teknik secara praktis untuk memecahkan masalah penipuan.

  • Pekerja migran mudah tertipu karena adanya dilema informasi nyata, saluran verifikasi, dan lingkaran terpercaya

Seorang penduduk imigran baru yang membuka toko Indonesia di Taiwan, Nona Cao (曹) menceritakan dengan jelas bahwa ada pelanggannya yang hampir ditipu. Dengan rasa takut di hati, Nona Cao menghela napas dan menyampaikan, meskipun bahasanya sama, tapi ia mungkin tidak dapat membujuk orang yang telah bingung karena adanya informasi yang salah, seperti seorang pekerja migran yang mendapatkan pesan informasi menang undian. Awalnya ia sangat senang dan hampir mengikuti instruksi untuk membayar “uang pajak”. Nona Cao mengingatkannya, bahwa ada kemungkinan penipuan, tapi pekerja tersebut berpikir, “bagaimana jika hal itu benar? Apakah saya akan menolak rejeki pemberian Tuhan?” Hingga akhirnya, kerabat dari pekerja migran tersebut yang berada di Taiwan dengan keras menyanggah rumor itu, ia pun baru menyadari bahwa “tidak ada yang gratis di dunia ini.”

Kepala Editor Taiwan FactCheck Center Summer Chen (陳慧敏) menyampaikan, bahwa komunitas pekerja migran di Taiwan kekurangan “antibodi” dalam hal informasi palsu karena mereka kekurangan informasi asli di sekitar mereka, sehingga mudah bagi informasi palsu untuk menyelinap masuk. Di saat yang sama, juga tidak ada saluran verifikasi. Jika datang ke Taiwan sebagai pekerja migran, tidak mengenal tempat yang ditinggali, kekurangan lingkaran yang terpercaya, dan tidak dapat mencari siapa pun untuk dimintai bantuan, maka resiko untuk tertipu relatif tinggi.

Summer Chen mengungkapkan, karena informasi palsu terus merebak, organisasi pengecek fakta lintas batas terus terhubung. Sebagai contoh, Taiwan FastCheck Center bekerja sama dengan organisasi verifikasi Filipina Vera Files pada paruh pertama tahun lalu untuk mengimplementasikan proyek percobaan Filipina. Setelah uji coba terus menerus dan implementasi penyesuaian strategi, bekerja sama dengan organisasi pengecek fakta MAFINDO dan Trans Asia Sisters Association (TASAT), program literasi media sosial selama 1 tahun diluncurkan tahun ini.

  • Periksa rekomendasi utama dalam pencarian gambar, rangsangan emosi yang kuat mungkin merupakan penipuan

Manajer program Zhou Hui-ying (周慧盈) menyampaikan bahwa penipuan umum yang terjadi di komunitas Asia Tenggara saat ini adalah penipuan asmara, donasi, lelang online, dan tempat tinggal. Penipuan asmara menciptakan jaringan asmara yang berbahaya, donasi menguras simpati, dan lelang online menangkap kelemahan manusia yang tamak akan keuntungan kecil. Ketiganya sebenarnya tidaklah asing bagi orang Taiwan, tapi penipuan ruamh secara jelas menargetkan pekerja migran yang menabung untuk pulang dan membangun rumah. Zhou Hui-ying mengatakan: “ada banyak pekerja migran yang datang ke Taiwan untuk mendapatkan uang dan pulang untuk membangun rumah, sehingga orang dari kampung halaman yang sama mengambil keuntungan. Anda (pekerja migran) tidak dapat melihat rumah, tapi, saya memiliki rumah yang mewah hari ini, apakah Anda menginginkannya? Hanya dengan sejumlah uang sebagai uang muka, maka hari ini sudah bisa.”

Zhou Hui-ying mengambil selembar contoh pesan penipuan rumah yang menuliskan, “44 ping (145 meter persegi) tempat tinggal mewah berlokasi di Kota Tegal, Indonesia mulai dari NT$ 2 juta dan uang mukanya adalah NT$ 400.000, hanya hari ini!” Zhou Hui-ying mengatakan, 9 dari 10 gambar yang menyertai informasi palsu dicuri dari internet, oleh karena itu cara termudah untuk memecahkannya adalah dengan menggunakan aplikasi lensa pintar Google Lens untuk mencari gambar. Secara umum, gambar aslinya akan ditemukan, tetapi “informasi palsu tanpa gambar lebih sulit untuk ditangani.”

Zhou Hui-ying menunjukkan bahwa kini ada banyak akun Line resmi yang dipalsukan, seperti akun tiruan dari 1955 milik Kementerian Tenaga Kerja (MOL) yang mengklaim bahwa, “Taiwan membuka banyak lapangan pekerjaan bagi para pekerja migran karena berkurangnya angka kelahiran. Hanya dengan mengklik laman situs, akan ada orang yang berdedikasi untuk membantumu mencarikan pekerjaan secara gratis.” Summer Chen percaya, bahwa saat berhadapan dengan metode penipuan yang terus menerus berinovasi, “emosi” menjadi salah satu kunci utama untuk melihat penipuan. Jika informasi itu merangsang emosi maka perlu dicurigai. Ia mengatakan: “jika informasi ini sampai ke ponselmu dan menyentuh emosimu, entah terlalu senang, terlalu bersemangat, mendapatkan kesempatan mendapat hadiah, hal ini secara umum mencurigakan. Jika mencurigakan, Anda perlu berhenti sebentar, memeriksanya, dan kemudian memutuskan apakah perlu percaya hal itu atau tidak.”

  • Pembentukan kesatuan pertahanan sipil Taiwan – Indonesia memperkuat perang melawan penipuan

Summer Chen percaya bahwa mengecek informasi harus menjadi sebuah kebiasaan dan ia mengharapkan semua orang ingat bahwa informasi palsu dibuat-buat. Jika Anda tidak dapat menemukan apa pun, jangan khawatir, sebab itu berarti kemungkinan rumornya tidak berdasar cukup tinggi. Sebagai tambahan, ia juga mengingatkan orang Taiwan agar tidak berpikir bahwa pekerja migran yang ditipu tidak ada hubungannya dengan diri mereka. Ada banyak pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai perawat di rumah tangga, ketika tertipu, dampaknya mungkin akan mengenai orang yang mereka jaga. Summer Chen mengatakan: “karena mereka merawat orang tua yang berada di rumah, nyatanya orang tua yang terkena penyakit serius membutuhkan perawatan mereka selama 24 jam, sehingga ketika mereka mereka memiliki konsep tentang penipuan kesehatan di Taiwan, mereka sebenarnya dapat melindungi keluarga orang tua yang dijaga.”

Zhuo Hui-ying mengatakan: “ selain itu, saya pernah mendengar, mereka pernah menerima atau membeli produk kesehatan palsu, jika diberikan kepada lansia, dapat dibayangkan bahwa konsekuensinya akan menjadi sangat serius.”

Zhou Hui-ying mengharapkan agar ada lebih banyak orang yang bekerja sama mempromosikan program literasi sosial media Taiwan – Indonesia dan membuat grup Facebook “Komunitas Indo Taiwan Hoax-Proof: Anti Tipu-Tipu! 在台印尼人防騙局社團,” yang secara berkala berbagi informasi nyata, mendorong para pekerja migran untuk bertanya dengan bahasa asli, menumbuhkan kebiasaan untuk saling membantu dan bekerja sama untuk menghilangkan rumor. Di masa depan, lingkaran kepercayaan ini dapat menjadi saluran verifikasi yang efektif bagi orang asing.

Komentar

Terbarumore