(Taiwan, ROC) - Serangkaian aksi protes diadakan di lima kota di berbagai pelosok Taiwan pada hari Minggu pagi untuk berbelasungkawa atas korban-korban yang meninggal ditabrak oleh pengemudi sembrono di penyeberangan, dan menuntut tindakan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki dan mencegah kecelakaan lalu lintas yang memicu kritik terhadap Taiwan sebagai "neraka hidup" bagi pejalan kaki.
Para pemrotes mengenakan baju berwarna hitam, bersama-sama berjalan mengelilingi persimpangan lokasi kecelakaan yang telah menelan banyak korban. Selain melambaikan spanduk protes dan tuntutan, banyak pemrotes juga membawa bunga pertanda belasungkawa dan payung yang melambangkan bahwa pejalan kaki sangat membutuhkan perlindungan.
Kelima lokasi aksi protes adalah persimpangan Jianguo South Road dan Xinyi Road di Taipei, persimpangan Xingfu Road dan Siyuan Road di New Taipei, persimpangan Xueshi Road dan Yingcai Road di Taichung, persimpangan Zhongyi Road dan Chenggong Road di Tainan, dan persimpangan Hedong Road dan Guomin Street di Kaohsiung.
Dari kecelakaan-kecelakaan mematikan di persimpangan-persimpangan tersebut, yang terakhir terjadi di Tainan Senin lalu, di mana seorang anak perempuan berusia 3 tahun meninggal dan ibunya cedera ditabrak oleh sebuah mobil berbelok kiri.
Pemerintah Taiwan telah menghadapi tekanan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki seiring terjadinya beberapa kecelakaan besar dan artikel CNN tahun lalu yang menyoroti kritik terhadap Taiwan sebagai "neraka hidup" bagi pejalan kaki.
Hingga saat ini, telah diambil langkah-langkah sederhana ke arah ini, seperti menaikkan denda bagi pengemudi yang tidak mendahulukan pejalan kaki di penyeberangan atau ketika berbelok menjadi NT$3.600, dan meluncurkan kampanye nasional pada 1 Mei untuk penegakan hukum yang lebih baik.
Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan yang sulit dalam mengubah budaya mengemudi di mana perilaku yang membahayakan pejalan kaki tetap meluas, seperti tidak berhenti di penyeberangan, tanda berhenti atau lampu merah berkedip.