(Taiwan,ROC)-Hari ini(26) kuil Hsingtiengung tidak diijinkan untuk menyajikan tempat penancapan dupa, namun dari kuil besar di kota Taipei lainnya menyampaikan tetap akan berjalan seperti semula, bahkan mengingatkan kuil Hsingtiengung yang telah meniadakan tempat penancapan dupa dan meja sesajen yang menandakan tidak menghormati dewa, serta melanggar kepercayaan tradisional.
Wakil ketua kuil Lungshanshe-Wanhua Huang Shu-wei mengatakan, dahulu kuil Lungshan she memiliki 11 tempat pembakaran uang kertas yang dikurangi hingga menjadi 7 buah, dan secara perlahan masih akan dikurangi hingga 5 buah tempat pembakaran, membutuhkan waktu bagi penganut agar tidak membuat mereka merasa kecewa dan marah. Ia juga menekankan, kuil Lungshanshe yang mulai mengurangi tempat pembakaran, menghilangkan tradisi membakar uang kertas pada saat itu masyarakat juga melakukan protes keras, kemudian meniadakan tradisi menyalakan lilin, dupa, semua ini dilakukan melalui himbauan dan secara perlahan mengubah kebiasaan masyarakat lama.
Wakil ketua kuil Chenlangung-Da cia, Cheng Ming-kun mengatakan, bersembahyang dengan menggunakan dupa merupakan tradisi, jika tidak menggunakan dupa akan terasa aneh, Chenlangung juga sangat memperhatikan ramah lingkungan, namun tidak akan mengikuti cara kuil Hsingtiengung secara langsung menghentikan pemakaian dupa.
Pengurus kuil Tienhougung- Lu Gang, Chang Wei-dung mengatakan, kuilnya juga sangat mendukung ramah lingkungan, namun cara untuk memperhatikan lingkungan ada banyak cara, jika meniadakan pemakaian dupa dan meja sesajen, yang berarti tidak menghormati dewa, juga melanggar tradisi kepercayaan tradisional.
Petugas dari Chautiengung-Pei Gang mengemukakan, dupa merupakan simbol dari penganut saat berdoa kepada dewi Machu, salah satunya cara dan bagian dari penyembahan dewa termasuk tradisi member dupa, merupakan bagian kebudayaan keagamaan; setelah penganut yang menerima satu kantong dupa, hal pertama yang akan dilakukan adalah menuju ke tempat penancapan dupa dan berdoa agar tetap diberi kekuatan oleh dewi Machu, setelah ditiadakan proses bakar dupa dan pembakaran uang kertas, maka sangat dikuatirkan akan memberikan ketidaktenangan bagi penganutnya.
Pengurus Datienhougung- Tainan, tzeng Ji-lien mengatakan, sejak dahulu masyarakat penganut kepercayaan ini yang telah mengikuti tradisi membakar dupa, uang kertas, mereka mempercayai dalam tindakan demikian dapat menyampaikan doa yang ingin disampaikan kepada dewa. Ia beranggapan pada dasarnya, ramah lingkungan yang ingin mengurangi karbon, pihak kuil pada awal juga telah menghimbau untuk mengurangi pembakaran dupa dan uang kertas, namun sebagian penganut yang belum dapat menerima hal ini, sehingga himbauan mereka sangat terbatas. Dalam hal ini bukan berarti mereka yang tidak mengikuti peniadaan bakar dupa, namun yang menjadi kesulitan bagi mereka adalah sangat sulit diterapkan, oleh sebab itu mereka belum berani untuk mengikutinya.
Sementara kuil yang berada di kabupaten Pintung tidak merencanakan untuk mengikuti aturan ini, kuil Tze-feng Pingtung mengatakan, dalam waktu 3 tahun yang lalu mereka mengurangi dari 3 dupa menjadi 1 dupa pada saat sembahyangan. Kuil Yu-huang kota Pingtung mengemukakan, jika saja masyarakat Pintung dalam sesaat tidak memakai dupa saat bersembahyang, akan sangat sulit, namun sebaiknya menggunakan cara secara bertahap.