(Taiwan, ROC) -- Wakil Ketua Partai Demokrat Liberal Jepang, Aso Taro menyinggung perihal perubahan situasi keamanan di sekitar Jepang pada tanggal 17 April 2023. Aso Taro menyampaikan pidatonya pada Senin pekan ini (17/4), yang kemudian menyinggung isu peluncuran rudal oleh Korea Utara dan konflik yang ditakutkan akan terjadi di kawasan lintas selat. Ia menuturkan, jika kekuatan pertahanan diri tidak dibangun dengan baik, maka keberadaan Jepang dapat terancam Mantan Wakil Menlu India, Vijay Gokhale baru-baru ini menulis sebuah artikel yang menyampaikan bahwa isu Taiwan bisa menjadi pemantik antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Ia juga menyerukan ke pemerintah India untuk segera merumuskan kebijakan yang relevan, guna menanggapi situasi yang ada saat ini.
Kantor Berita Kyodo Jepang mewartakan, pada tanggal 17 April 2023, Aso Taro memberikan pidatonya dalam sebuah acara makan malam penggalangan dana di Kota Fukuoka. Dalam pidatonya, Aso Taro menuturkan, perlu dilakukan penguatan pada sistem pasukan pertahanan bela diri, guna menanggapi situasi yang berkembang dewasa ini. Ia melanjutkan, Korea Utara telah meluncurkan rudal balistik mereka, dan hal ini dicemaskan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya krisis di Selat Taiwan. Stabilitas di kawasan sekitar Jepang sudah berubah dan tidak sama dengan masa lalu, sehingga Jepang dirasa sudah sepantasnya meningkatkan status pasukan pertahanan mereka ke level siap tempur.
Aso Taro mengatakan, “Untuk memperkuat sistem pasukan pertahanan bela diri, maka revisi konstitusi tidak dapat dihindari.” Ia menekankan, meski masalah yang dihadapi saat ini terbilang cukup kompleks, tetapi pemerintah sudah seharusnya menuntaskan seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan penguatan pertahanan diri.
Aso Taro yang kini berusia 82 tahun tersebut, pernah menjabat posisi Perdana Menteri Jepang pada tahun 2008 hingga 2009. Pada bulan Desember 2012 hingga Oktober 2021, Aso Taro menjabat posisi Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan. Pada bulan Agustus 2021, Aso Taro kemudian ditunjuk untuk menjabat Ketua Partai Demokrat Liberal. Di samping itu, mantan Wakil Menlu India, Vijay Gokhale baru-baru ini menyampaikan, jika konflik pecah di Selat Taiwan, maka hal tersebut akan memiliki dampak geopolitik yang lebih besar dibandingkan krisis yang tengah terjadi di Ukraina.
Vijay Gokhale yang kali ini berprofesi sebagai peneliti di Carnegie India tersebut menuturkan, segala bentuk ketegangan yang terjadi di Selat Taiwan, akan berdampak pada kepentingan ekonomi dan keamanan India. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya, Vijay Gokhale menerangkan, otoritas India sudah sepatutnya menyertakan isu perubahan situasi Selat Taiwan ke dalam kebijakan luar negeri dan keamanan mereka. Pemerintah India juga harus mengkoordinasikan kekuatan dari berbagai institusi yang ada, serta memperhitungkan dampak krisis Selat Taiwan terhadap India, dan merumuskan tindakan penanggulangan yang relevan.