(Taiwan, ROC) – Kepala juru bicara Komisi Eropa Eric Mamer 11 April menyampaikan, bahwa Uni Eropa dengan tegas tetap menentang penggunaan kekuatan militer untuk mengubah status quo di Selat Taiwan. Menurut laporan berita Reuters, Mamer menyampaikan, “kami terus menyerukan pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di sekitar Selat Taiwan.”
Uni Eropa juga menyatakan keprihatinannya terhadap latihan militer Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di sekitar Taiwan kemarin. Juru bicara Uni Eropa untuk Urusan Luar dan Kebijakan Keamanan Nabila Massrali mengemukakan, bahwa tidak seharusnya penggunaan kekuatan militer digunakan untuk mengubah status quo di Selat Taiwan. Memburuknya situasi di Selat Taiwan, pecahnya sebuah kecelakaan atau penggunaan kekuatan militer akan berdampak besar bagi dunia.
Dalam sebuah wawancara dengan media setelah berkunjung ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) minggu lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan, “Eropa tidak seharusnya menjadi kaki tangan Amerika Serikat dalam konflik antara Taiwan dan RRT”, membuatnya mendapatkan kritik dari seluruh lapisan masyarakat dan angin badai tersebar ke seluruh dunia. Ia telah tiba di Belanda untuk kunjungan kenegaraan hari ini dan akan memberikan pidato terkait dengan kedaulatan Eropa di Den Haag, di mana hal ini menarik perhatian dari seluruh pihak.
Agence France-Presse (AFP) melaporkan, dalam pidatonya Macron fokus pada kebutuhan Eropa untuk mempromosikan ekonomi dan keamanannya sendiri saat terjadi perang dan kekacauan, tanpa pembicaraan lebih lanjut tentang Taiwan.