(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 10 April 2023, media Reuters mewartakan, Presiden Prancis Emmanuel Macron sempat menyampaikan bahwa dirinya tidak tertarik untuk terjun dalam konflik Taiwan. Ia juga menuturkan, permasalahan Taiwan sudah sepatutnya berdiri sendiri, serta jangan dikait-kaitkan dengan Washington dan Beijing. Pernyataan dari Presiden Emmanuel Macron tersebut sontak saja mendatangkan reaksi beragam dari beberapa pihak. Para politisi dari kawasan Transatlantik pun melancarkan kritik pedas kepada Presiden Emannuel Macron yang dianggap terlalu akomodatif terhadap Tiongkok, apalagi Partai Tiongkok baru saja melakukan simulasi militer di perairan sekitar Taiwan.
Presiden Emmanuel Macron menghadiri wawancara eksklusif dengan surat kabar Prancis, Les Echos dan media Eropa, Politico, di sela-sela kunjungannya ke Tiongkok selama 3 hari. Dalam wawancara bersangkutan, Presiden Prancis tersebut mengatakan, “Hal yang paling buruk adalah ketika berpikir jika kami Benua Eropa harus ikut-ikutan dalam masalah ini, serta bereaksi terlampau berlebihan untuk mengikuti ritme AS atau Tiongkok.”
Melalui akun di Twitter, Ketua Komite Kebijakan Luar Negeri Parlemen Jerman, Norbert Roettgen menyampaikan, “Perjalanan Presiden Emmanuel Macron ke Tiongkok telah menjadi trik humas bagi Pemimpin Xi Jin-ping, dan ini adalah bencana bagi kebijakan luar negeri Eropa.” Melalui unggahan video di Twitter, Senator Amerika Serikat, Marco Rubio kemudian membandingkan hal tersebut dengan insiden yang terjadi di Ukraina. Emmanuel Macron berharap bahwa di tengah konflik yang ada, dirinya dapat memperoleh bantuan Tiongkok.
Marco Rubio menyampaikan, jika Eropa memutuskan untuk tidak memihak antara AS atau Tiongkok di atas isu Taiwan, maka mereka juga tidak boleh memihak di atas isu Ukraina. Juru bicara Kedutaan Prancis, Pascal Confavreux menuturkan, pernyataan dari Presiden Emmanuel Macron telah ditafsir secara berlebihan. “AS adalah sekutu kami dan kami berbagi nilai yang sama dengan mereka,” cuit Pascal Confavreux, Hingga berita ini dirilis, pihak Istana Élysée belum memberikan komentar apa pun menanggapi pemberitaan Reuters di atas.