(Taiwan,ROC) – Partai Komunis Tiongkok (CCP) melakukan kegiatan pelatihan militer di sekitar Taiwan, kemarin bahkan mencatat rekor jumlah pesawat militer penggangu terbanyak. Dalam sebuah wawancara, Wakil Perdana Menteri Taiwan, Cheng Wen-tsan (鄭文燦) di hari ini (11 April) menyampaikan, kunjungan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) merupakan hal yang telah lalu, tapi juga hak legitimasi Taiwan. CCP menggunakan hal ini sebagai alasan untuk melakukan pelatihan militer, di mana hal tersebut tidak akan mendapatkan dukungan dari dunia internasional dan juga tidak akan memberikan bantuan apapun dalam keamanan regional. Segala ketidaksesuaian tidak seharusnya diselesaikan dengan cara perang.
CCP melakukan pelatihan militer selama 3 hari setelah Presiden Tsai Ing-wen melakukan kunjungan ke luar negeri. Menurut data statistik dari Kementerian Pertahanan Taiwan (MND), total ada 91 pesawat militer yang terdeteksi dalam pelatihan militer RRT hari terakhir 10 April kemarin, menjadi rekor tertinggi baru dalam hal gangguan pesawat. Selain itu, dilaporkan juga bahwa ada kapal perang RRT yang menghubungi Kapal Patroli Laut Taiwan yang sedang melakukan patroli di sekitar secara nirkabel, berharap dapat mendekat, agar dapat mengambil beberapa gambar.
Sebelum menghadiri “Taiwan Net Zero City Governance Forum” (台灣城市淨零治理論壇), Wakil Perdana Menteri Taiwan, Cheng Wen-tsan (鄭文燦) menerima wawancara pagi ini. Ia pun ditanyakan bagaimana pendapatnya dan penilaian awal terhadap dampaknya bagi Taiwan terkait dengan latihan militer RRT di sekitar Taiwan.
Wakil PM Cheng Wen-tsan menyampaikan, RRT melakukan pelatihan militer terkait dengan kunjungan Presiden Tsai Ing-wen tidak akan mendapatkan dukungan dari pihak internasional dan tidak akan berdampak dalam keamanan regional. Ia mengatakan, “Presiden mewakili negara berkunjung ke negara-negara sahabat diplomatik, memasuki dunia, membuat dunia melihat Taiwan. Hal ini merupakan hal yang telah berlalu, sekaligus juga hak legitimasi dari Taiwan. Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menggunakan alasan ini untuk melakukan pelatihan militer di sekitar Taiwan. Hal ini tidak akan mendapatkan dukungan dari komunitas internasional. Saya berpikir, jika RRT berharap agar dapat menggambar garis merah baru, atau mengetes garis terbawah Taiwan, saya rasa hal ini tidak akan memberikan bantuan apapun terhadap keamanan regional.”
Wakil PM Cheng menunjukkan, bahwa pihak RRT sedang melancarkan perang kognitif, dalam upaya mempengaruhi opini publik. Tentara nasional dan Patroli Laut Taiwan selama 3 hari terus memonitor kegiatan tersebut, mempertahankan dan menjaga wilayah perairan maupun udara Taiwan. Ia sangat berterima kasih dan memberikan rasa hormat setinggi-tingginya atas upaya kerja keras dari para prajurit dan tentara Taiwan. Di waktu yang sama juga menekankan bahwa pihak Taiwan tenang, tidak takut atau pun terprovokasi, percaya bahwa masyarakat Taiwan akan memberikan dukungan.
Cheng Wen-tsan di akhir menekankan, bahwa Taiwan mengharapkan perdamaian menjadi satu-satunya pilihan dari kedua pihak di selat tersebut, jika terjadi ketidaksesuaian tidak seharusnya diselesaikan dengan cara perang. Taiwan tidak akan menyerang siapa pun, hanya ingin untuk melindungi dirinya sendiri.