(Taiwan, ROC) Media AFP melaporkan, konflik antara militer Israel dan warga Palestina di masjid Al-Aqsa, setelah terjadi ledakan dan serangan udara, pada tanggal 5 April dunia internasional memberikan kecaman dan perhatian atas serangan ini, kondisi demikian memperburuk situasi internasional.
Selama perayaan paskah Yahudi dan bulan Ramadan ini terjadi konflik, pengakuan dari militer Israel dan saksi membeberkan 2 roket ditembakkan pada tanggal 5 April ke Jalur Gaza yang telah diblokir oleh Israel, tembakan mengarah ke Israel, sementara ledakan yang terjadi di masjid Al-Aqsa memicu konflik baru.
Aparat bersenjata anti huru-hara sebelum fajar 5 April menyerbu masjid Al-Aqsa dengan alasan mengusir provokator bertopeng dan aktivitis pelanggar hukum”, yang mengunci diri di dalam masjid Al-Aqsa.
Dalam video rekaman polisi menunjukkan, polisi dilempar api dan batu, lebih dari 350 orang ditangkap dan ditahan.
Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih AS, John Kirby mengatakan, AS aktif memperhatikan tindakan kekerasan yang berkelanjutan, kami menekan agar setiap pihak untuk menghindari konflik lebih lanjut.
Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan, menginjak masjid Al-Aqsa yang merupakan garis merah kami. Turki -Israel masih berupaya membina hubungan baik.
Pada tanggal 5 April polisi Israel mengatakan, ada belasan aktivitis pemuda, beberapa yang bertopeng, di dalam masjid melempar batu dan bermaksud mengunci diri di dalam masjid, pada waktu itu tidak sedikit penganut yang sedang menjalankan ibadah.
Polisi mengatakan, aparat menaklukkan dan mengusir para aktivitis, dan membiarkan penganut meninggalkan lokasi. Seorang wartawan AFP menyaksikan tim keamanan Israel membatasi jalur keluar masuk masjid.
Juru bicara dari pemerintahan Presiden Palestina Mahmud Abbas menyampaikan, Israel menciptakan situasi tegang, dan tidak stabil, juga mengecam serbuan polisi di masjid Al-Aqsa yang menyerang penganut di masjid pada tanggal 5 April malam hari.
Pemerintahan baru dari PM Israel Benjamin Netanyahu yang menjabat sejak Desember tahun lalu, konflik Israel -Palestina semakin memburuk, PM Israel Benjamin Netanyahu beraliansi dengan kelompok sayap kanan dan partai politik Yahudi ultra-Ortodoks.