(Taiwan, ROC) – Media Agence France-Presse (AFP) melaporkan, bot percakapan (chatbot) ChatGPT kini sangat populer di seluruh dunia. Raksasa e-commerce Tiongkok Alibaba menyatakan, mereka kini sedang mengembangkan chatbot kecerdasan buatan (AI) milik mereka sendiri, masuk dalam bagian perusahaan-perusahaan teknologi yang turut berkompetisi dalam bidang ini. ChatGPT telah menyebarkan kesempatan mendapatkan lahan basah, di mana Microsoft, Google, dan Baidu dari Tiongkok mengembangkan chatbot yang dapat meniru percakapan manusia.
Layanan yang dibuat oleh perusahaan OpenAI yang berbasis di San Francisco ini, telah menyebabkan kegemparan, sebab dapat menulis artikel, puisi, dan memprogram kode-kode yang diminta dalam waktu sekian detik. Hal ini menyebarkan kekhawatiran jikalau para pelajar akan berbuat curang atau menyebabkan karir para tenaga professional tereleminasi. Seorang juru bicara perempuan dari Alibaba mengatakan, kini mereka telah mengembangkan ChatGPT-chatbot, di mana saat ini tengah diuji coba secara internal di kalangan para karyawan mereka.
Ia menolak untuk membicarakan waktu peluncuran layanan ini, dan apakah layanan tersebut akan digunakan oleh platform belanja online terbesar di Tiongkok – Taobao. Pernyataan Alibaba ini dikeluarkan setelah beberapa hari lalu, raksasa situs pencarian Tiongkok – Baidu menyatakan akan menyelesaikan percobaan chatbot mereka pada bulan Maret mendatang.
Microsoft telah mengumumkan bahwa pihaknya telah menjalin kerjasama dengan produsen ChatGPT, yaitu OpenAI dengan nilai US$ 1 milyar, serta berencana untuk mengintegrasikan fungsi AI yang sangat kuat ini ke dalam situs pencari Microsoft, Bing. Di samping itu, Google pada tanggal 8 Februari lalu juga mengumumkan seri fitur AI-driven.
Terkait pembuatan tulisan dengan sintesis dari AI, video dan audio tanpa kendala, maka terjadilah pencurian identitas yang memungkinkan terjadinya penipuan keuangan serta dapat merusak reputasi seseorang, hal ini telah menarik perhatian global. Pihak Beijing memperingatkan, teknologi yang serupa dengan chatbot, dapat membuat sebuah figur identitas identik secara digital (deepfakes) merupakan “bahaya keamanan nasional dan stabilitas sosial.”