(Taiwan, ROC) -- Gempa Turki yang terjadi pada tanggal 6 Februari dini hari waktu setempat, telah memakan korban meninggal setidaknya 7800 jiwa setelah berlalu selama 45 jam. Asosiasi non-pemerintah Turki AKUT Search and Rescue Association (Turkish: AKUT Arama Kurtarma Derneği) menyampaikan, sejak didirikannya dari 27 tahun lalu kali ini merupakan tugas yang paling berat, sangat berterima kasih “Adanya teman seperti Taiwan yang berdiri bersama kami”.
Beberapa kali gempa bumi melanda Turki bagian selatan berbatasan dengan Suriah, di antaranya guncangan terbesar bermagnitudo sekitar 7,8 dan 7,5 yang mengakibatkan ribuan bangunan ambruk, petugas pertolongan bencana harus berlomba dengan waktu berharap dapat mencari korban yang dapat ditolong jiwanya.
Wakil Presiden Turki Fuat Oktay dalam jumpa pers penjelasan gempa yang berlangsung pada tanggal 8 pagi waktu Taipei mengemukakan, gempa dashyat yang menewaskan 5.894 jiwa, 34.810 orang luka-luka. Reuters melaporkan, setidaknya ada 1.932 korban tewas di Suriah akibat bencana ini. Dengan demikian setelah 45 jam sejak terjadinya gempa dipastikan sudah menelas korban meninggal sebanyak 7.826 jiwa.
Asosiasi AKUT yang sempat menanggani bantuan bencana gempa yang terjadi pada 21 September 1999 menyampaikan, kali ini mengerahkan 28 tim penolong yang terdiri dari 654 orang relawan, 4 ekor anjing pelacak, dan 48 kendaraan, memberikan bantuan yang tersebat di beberapa tempat seperti Adana, Adiyaman, Gaziaritep, Hatay, Malatya, Osmaniye, dan Kahramanmaras.
Kepala Tim Berita AKUT Isil Bayraktar Buldur saat diwawancarai CNA pada dini hari tadi waktu Taipei mengemukakan, “Tugas kami tidak akan berhenti, tim yang telah kami kerahkan telah berhasil menolong 62 jiwa korban hingga sekarang ini.” Sehubungan dengan turunnya salju di kawasan bencana sehingga semakin mempersulit tugas pertolongan.
Isil Bayraktar Buldur menyampaikan, menilik dari besarnya magnitude gempa, cakupan kawasan terdampak gempa dan musim dingin sehingga tugas kali ini merupakan yang “terberat” selama 27 tahun sejak didirikannya AKUT apalagi suhu udara di kawasan gempa pada malam hari bisa mencapai minus 15 derajat, timbunan salju yang tebal semakin mempersulit transportasi bala bantuan ke lokasi.
Banyak warga Taiwan yang pernah merasakan gempa 21 Septermber langsung agresif memberikan sumbangan melalui situs AKUT, selain itu tulisan pesan-pesan dalam bahasa Mandarin seperti “Semangat, bala bantuan dari Taiwan sudah dalam perjalanan ke sana”, “Berdoa bagi negara kalian” terlihat di laman FB AKUT.