(Taiwan, ROC) -- Pada tanggal 16 Januari 2023, perusahaan jaringan keamanan informasi “Check Point Software Technologies Ltd” merilis data statistik yang memperlihatkan bahwa jumlah serangan dunia maya global telah meningkat 38% pada sepanjang tahun 2022. Organisasi di Taiwan juga tidak luput dari serangan para peretas, setiap minggunya diberitakan ada 3.118 kasus serangan di dunia maya, atau meningkat sebanyak 10%. Institusi di Taiwan yang paling sering diserang adalah organisasi keuangan, perbankan, manufaktur, badan pemerintah dan militer.
Check Point menuturkan, serangan di dunia maya secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam ancaman para peretas dan perangkat ransomware. Mereka bahkan saling berkolaborasi untuk kemudian menyerang fasilitas di perkantoran, atau menyasar lembaga pendidikan yang selama masa pasca pandemi memilih untuk beralih ke pembelajaran daring. Di samping itu, para peretas juga mulai menyasar institusi kesehatan untuk melancarkan serangan mereka. Jika dibandingkan dengan sektor lainnya, maka tingkat serangan di lembaga kesehatan pada sepanjang tahun 2022 adalah yang terbanyak.
Check Point mengemukakan, seiring dengan semakin umumnya teknologi AI, misal ChatGPT, membuat para peretas memilih menggunakan metode serupa untuk melakukan otomatisasi dalam merancang kode dan email berbahaya. Disarankan kepada setiap personil dari organisasi, baik pemerintah maupun swasta, untuk menerapkan langkah-langkah penanggulangan, seperti menggelar kursus pelatihan, serta menambahkan akses atau aplikasi tambahan untuk menangkal ransomware. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya kebocoran data akan semakin berkurang. Penelitian Check Point memperlihatkan, selama kuartal keempat tahun 2022, jumlah kasus serangan peretas di dunia maya global mencapai angka 1.168 kasus untuk setiap minggunya. Yang mana ini juga menjadi yang tertinggi dalam sejarah. Industri yang paling banyak menerima serangan siber selama tahun 2022 meliputi institusi pendidikan, penelitian, lembaga pemerintah, militer dan lembaga medis
Jika ditelaah berdasarkan letak geografis, maka wilayah Afrika menjadi yang paling banyak menerima serangan pada sepanjang tahun lalu. Diberitakan ada sekitar 1.875 kasus serangan yang mengancam wilayah Afrika setiap minggunya. Sedangkan di posisi kedua diduduki oleh kawasan Asia Pasifik. Jika dibandingkan data tahun 2021, maka tiga wilayah dunia dengan peningkatan serangan siber terbesar selama sepanjang tahun 2022 adalah Amerika Utara (52%), Amerika Latin (29%) dan Eropa (26%).