(Taiwan, ROC) -- Para Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Amerika Serikat (AS) dan Australia menggelar pertemuan 2+2 di Washington pada tanggal 6 Desember 2022. Pada konferensi pers yang diselenggarakan setelah pertemuan tersebut berakhir, mereka menetapkan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan, mengkritik Republik Rakyat Tiongkok (RRT) karena berusaha mengubah status quo, serta mengemukakan jika mereka akan membentuk aliansi militer dengan Jepang guna menjamin kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menggelar Pertemuan Konsultasi Tingkat Menteri AS-Australia (AUSMIN) dengan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong dan Menteri Pertahanan Australia Richard Marles di Departemen Luar Negeri AS, mereka berempat pun menyelenggarakan konferensi pers setelah pertemuan tersebut berakhir. Ini adalah pertemuan 2+2 pertama antara AS dan Australia semenjak Perdana Menteri Anthony Albanese menjabat pada bulan Mei yang lalu.
Pada konferensi pers Antony Blinken merinci poin-poin penting dari pertemuan kedua belah pihak, termasuk situasi di Selat Taiwan, perang Rusia dan Ukraina, “Pakta Keamanan Trilateral AUKUS” AS-Inggris-Australia, Kerangka Ekonomi Indo-Pasifik untuk Kemakmuran (IPEF) yang diinisiasi oleh AS, dll. Lloyd Austin mengumumkan, dalam menghadapi tantangan saat ini, AS dan Australia akan menjadi “Kekuatan Penstabil”. Ke depannya mereka akan bekerja sama dengan mitra-mitra yang berpikiran serupa, bersama-sama memastikan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, termasuk mengundang Jepang untuk bergabung dengan rencana aliansi militer AS-Australia. Richard Marles mengemukakan, Jepang ke depannya akan mengadakan lebih banyak latihan militer bersama dengan AS dan Australia.
Terkait isu RRT dan Selat Taiwan, Antony Blinken menyampaikan, dalam pertemuan tersebut keempat menteri membahas bagaimana menanggapi tantangan yang disebabkan oleh pemerintah Beijing terhadap tatanan internasional berbasis aturan, termasuk mencoba menghalangi kebebasan navigasi di Laut Tiongkok Selatan, mengubah status quo secara sepihak di Selat Taiwan, dan berupaya mengancam negara-negara lain dengan paksaan ekonomi. Antony Blinken menunjukkan, kedua belah pihak juga berdiskusi tentang perlunya mengelola hubungan dengan Negeri Tirai Bambu, memastikan persaingan tidak berubah menjadi konflik, serta mencari bidang kerja sama, seperti iklim, kesehatan global, dan lain-lain.
Baik Antony Blinken maupun Penny Wong, keduanya saat konferensi pers tersebut menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan. Antony Blinken menegaskan tekad AS dalam mempertahankan status quo di Selat Taiwan, sementara Penny Wong menyampaikan jika Australia menghargai hubungan budaya, ekonomi, dan masyarakat tidak resmi dengan Taiwan.