(Taiwan, ROC) – Setelah berlangsungnya Revolusi Kertas Putih di berbagai daerah di Daratan Tiongkok terkait kebijakan pengontrolan pandemi yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintah Daratan Tiongkok, kini mulai terlihat adanya pelongaran kebijakan ketat tersebut di beberapa kawasan.
Pihak Organisasi Kesehatan Sedunia atau WHO pada hari Jumat tanggal 2 Desember menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik akan sikap baru yang diluncurkan oleh Pemerintah Daratan Tiongkok terkait pelonggaran kebijakan ketat yang sebelumnya menargetkan nol kasus.
Pada pekan sebelumnya, masyarakat setempat menyampaikan ketidak-puasannya akan kebijakan ketat yang diberlakukan oleh pihak Beijing, dengan menggelar serangkaian aksi protes dengan tajuk “Revolusi Kertas Putih”, dimana masyarakat umum membawa kertas putih dan turun ke jalan menjalankan protes secara damai mereka. Dan aksi ini juga diperluas dengan berbagai seruan suara hati masyarakat akan kebebasan politik, dimana aksi berskala luas ini merupakan yang pertama kali terjadi di Daratan Tiongkok dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Media AFP memberitakan bahwa pihak pejabat tinggi Uni Eropa memberikan laporan pada hari Sabtu tanggal 3 Desember berkenaan dengan pertemuan antara Presiden Daratan Tiongkok Xi Jinping dan pejabat utusan dari Uni Eropa. Pertemuan tersebut juga mengisyaratkan bahwa kasus penularan virus mutasi jenis Omicron terbilang berdampak ringan, dan dapat dijadikan sebagai sebuah rujukan bagi pihak Daratan Tiongkok yang masih terus mempertahankan kebijakan ketat dalam hal pengontrolan pandemi yang tengah berlangsung, termasuk pengadaan pemeriksaan menyeluruh yang ada.
Direktur Eksekutif Penanganan Darurat WHO, Michael Ryan saat diwawancara oleh media menyampaikan bahwa pihak WHO tentu meyambut baik sikap yang diambil oleh pihak Daratan Tiongkok untuk menata ulang kebijakan yang mereka terapkan berkenaan dengan masalah pandemi COVID-19 yang ada, dimana diharapkan dapat mengurangi kesengsaraan masyarakat umum tatkala kebijakan ketat yang berlebihan diterapkan.
Media Xinhua Daratan Tiongkok melaporkan bahwa Wakil Perdana Menteri Daratan Tiongkok Sun Chun-lan pada tanggal 30 November menyampaikan bahwa seiring dengan melemahnya gejala yang diakibatkan oleh virus mutasi jenis Omicron terhadap manusia, dan semakin umumnya penerimaan vaksin di kalangan masyarakat, maka kebijakan pencegahan pandemi juga akan memasuki metode baru dan juga tugas baru.
Sun Chun-lan dalam sebuah kegiatan diskusi umum yang digelar pada tanggal 2 Desember juga tidak menyebutkan lagi kebijakan “Nol Kasus”, dan menjelaskan bahwa berbagai kebijakan yang sekiranya akan menyusahkan kehidupan masyarakat, dan juga memengaruhi aktivitas normal warga akan diperlonggar secepatnya.
Dimulai dari hari Sabtu tanggal 3 Desember, maka bagi masyarakat yang hendak mendatangi lokasi publik atau naik kereta, tidak perlu lagi menyertakan sertifikat lolos uji terbaru atau yang bermasa kedaluarsa 48 jam, namun hanya perlu memperlihatkan aplikasi berkode hijau pertanda sehat, dan memastikan diri tidak berasal dari kawasan yang dikategorikan rawan berbahaya.
Akan tetapi, masih ada sebagian kawasan di Daratan Tiongkok yang masih tetap berjuang dalam melakukan pencegahan pandemi dan masalah “Nol Kasus”. Pada hari Jumat malam tanggal 2 Desember, media AFP merilis video yang memperlihatkan dengan jelas lokasi sebuah sekolah di Provinsi Hubei Daratan Tiongkok, dimana terdapat sepuluhan warga yang tengah berkelahi dengan petugas medis lengkap dengan pakaian pelindung.
Dari video juga diketahui jika ada orang tua siswa yang usai mengetahui hasil tes PCR sang anak positif dan segera dikarantina tersendiri. Pihak orang tua berada di luar gerbang sekolah, memohon kepada para petugas agar dapat segera membebaskan anak-anak mereka. Sementara itu juga dalam video terlihat ada sekitar sepuluhan aparat kepolisian yang turut berada dalam lokasi kejadian.