(Taiwan, ROC) --- Angkatan Laut Swedia menyampaikan, sebuah kapal berbendera Rusia yang disewa oleh perusahaan Nord Stream AG untuk pertama kalinya terlihat di sekitar lokasi terjadinya kebocoran saluran pipa gas alam Nord Stream 1. Nord Stream AG adalah perusahaan operator yang menangani operasional saluran pipa gas alam Nord Stream 1.
Denmark dan Swedia sama-sama menyimpulkan bahwa kebocoran saluran pipa gas alam Nord Stream 1 pada bulan September lalu diakibatkan oleh ledakan. Namun, hingga hari ini belum ditetapkan siapa pihak yang paling bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Mayoritas pemimpin negara di dunia menuturkan bahwa ini adalah aksi sabotase yang sangat tidak bertanggung jawab. Pada awal bulan Oktober, pihak jaksa dan kepolisian Swedia menyampaikan akan menggelar penyelidikan di tempat terjadinya ledakan. Dan pada akhir bulan Oktober, pihak Angkatan Laut Swedia mengumumkan akan menggelar investigasi mandiri.
Kepada media Reuters, Juru Bicara AL Swedia mengatakan, “Saat ini kami berbagi ruang yang sama dan tengah menggelar komunikasi satu sama lain.” Juru bicara tersebut melanjutkan, “Nord Stream AG sebelumnya pernah menyampaikan akan langsung menuju ke lokasi dan menggelar penyelidikan. Anda tidak memerlukan izin dari kami (AL Swedia) untuk menggelar penyelidikan di bawah laut.”
Perusahaan Gazrprom yang memiliki mayoritas saham Nord Stream, tidak bersedia menanggapi pertanyaan dari media Reuters. Swedia di lain pihak telah menolak panggilan Rusia untuk berpartisipasi dalam proses investigasi, atau setidaknya saling berbagi terhadap hasil penyidikan di lapangan
Juru bicara AL Swedia tersebut juga menambahkan, pihak operator yang mengoperasikan saluran gas alam Nord Stream 2, juga berencana untuk meluncurkan penyidikannya sendiri. Norwegia yang saat ini adalah pemasok gas alam terbesar di Eropa juga meningkatkan inspeksi saluran pipa mereka, sesaat setelah ledakan Nord Stream terjadi.
40% permintaan pasokan gas alam Benua Eropa dipenuhi oleh pihak Rusia. Semenjak krisis Ukraina – Rusia pecah pada bulan Februari lalu, pasokan gas alam ke Benua Eropa mulai berkurang. Hal ini kian diperparah setelah Uni Eropa memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Rusia. Akibatnya, harga gas alam melonjak drastis dan memperburuk krisis biaya hidup rumah tangga dan pebisnis Uni Eropa.