(Taiwan, ROC) --- Konferensi dunia World Movement for Democracy WMD dihelat di Kota Taipei pada tanggal 25 Oktober 2022. Kegiatan akbar ini dihadiri oleh 200 tamu VIP dari 70 negara di dunia. Mereka berkumpul untuk membahas isu-isu seperti demokrasi, serangan informasi palsu dan partisipasi generasi muda dalam ranah politik.
Maria Ressa yang adalah pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2021, yang juga menjabat Ketua WMD, hadir memberikan pidato pembukaannya. Dalam pidato hari ini (25/10), Maria Ressa menyampaikan, jejaring sosial yang mudah merekatkan hubungan antar individu, telah menjadi ajang untuk memanipulasi pemahaman masyarakat, melalui serangan informasi palsu.
Ia menyampaikan, jika tidak ada fakta, maka tidak akan ada kebenaran dan kepercayaan. Tanpa fakta, kebenaran dan kepercayaan, maka demokrasi tidak akan berkelanjutan.
Maria Ressa menuturkan, tanpa fakta maka tidak akan pelaksanaan pemilu yang setara. Banyak negara di dunia akan menggelar pesta demokrasi atau pemilu pada tahun 2023 hingga 2024. Jika situasi tidak membaik, maka bukan tidak mungkin tokoh yang menentang paham liberal akan dipilih menjadi pemimpin, dan hal tersebut tentu bisa melukai tubuh demokrasi.
Maria Ressa mengatakan, “Lihatlah pemilu tahun ini. Brasil baru saja selesai menggelar pemilu, diikuti oleh Venezuela, Nigeria dan Turki. Pada tahun 2024 masih ada India, yakni negara dengan populasi terbanyak di dunia. Setelah itu, masih ada negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia, yaitu Indonesia, kemudian diikuti oleh Amerika Serikat. Jika situasinya tidak berubah, mungkin akan ada lebih banyak tokok anti liberal yang akan memenangkan pemilu. Hal ini akan menghancurkan keseimbangan kekuatan dunia, dan paham demokrasi akan berubah menjadi paham fasisme.”
Dalam pidato pembukaannya, Ketua Taiwan Youth Association for Democracy, Chang Yu-meng (張育萌) mengatakan generasi muda memainkan peran penting bagi proses demokratisasi Taiwan, misal Gerakan Tangwai di era 60-an, Wild Lily Student Movement di era 90-an dan Gerakan Mahasiswa Bunga Matahari.
Chang Yu-meng menambahkan, tahun ini adalah “Tahun Pemuda Taiwan”, karena Taiwan akan mengadakan referendum membahas amandemen konstitusi terhadap hak para remaja yang telah genap berusia 18 tahun.
Chang Yu-meng mengungkapkan harapan agar warga Taiwan mendukung penuh referendum ini, yang rencananya akan dihelat pada akhir tahun 2022. Dengan demikian, Taiwan dapat terus merangkul nilai demokrasi, kebebasan dan HAM.