History page of Radio Taiwan International (Rti)
close
RTISISegera unduh Aplikasi ini
Mulai
:::

Liz Truss, PM Tersingkat dalam Sejarah Inggris, Turun Takhta Meninggalkan Luka Bagi Ekonomi Inggris

  • 22 October, 2022
  • 尤繼富
Liz Truss, PM Tersingkat dalam Sejarah Inggris, Turun Takhta Meninggalkan Luka Bagi Ekonomi Inggris
Liz Truss, PM Tersingkat dalam Sejarah Inggris

(Taiwan, ROC) -- Pada tanggal 20 Oktober 2022 (waktu Inggris), Liz Truss menjadi perdana menteri dengan masa jabatan terpendek dalam sejarah Inggris. Ia dinilai telah meninggalkan bekas luka yang mendalam pada perekonomian Inggris, setelah rencananya gagal dan mengguncang pasar setempat. Selain itu, biaya pinjaman Inggris melonjak drastis, yang akhirnya membuat nilai mata uang poundsterling terpuruk.

Liz Truss terpilih sebagai pemimpin Partai Konservatif Inggris pada enam minggu lalu, hal ini juga serta merta menjadikannya sebagai Perdana Menteri Inggris yang baru. Setelah Liz Truss menjabat, krisis yang melanda Inggris diketahui kian meningkat, dan ia pun mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 20 Oktober 2022. Pada bulan lalu, Liz Truss memperkenalkan program anggarannya dengan rencana pemotongan pajak yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Inggris yang sudah tergerus akibat hantaman resesi. Di samping itu, Liz Truss juga membekukan harga energi untuk meredakan krisis dari belenggu biaya hidup yang semakin mahal. Namun, langkah-langkah “mahal” ini didorong dengan tingkat utang yang meningkat luar biasa. Utang tersebut telah merusak kredibilitas pemerintah dalam sektor keuangan publik, yang mana kemudian berimbas pada hasil obligasi dan tingkat hipotek yang melonjak.

Seorang analisis di perusahaan jasa keuangan Inggris Hargreaves Lansdown, yaitu Susannah Streeter menyampaikan, pertaruhan politik Liz Truss telah menjadi bumerang, yang mengakibatkan kerusakan signifikan pada perekonomian Inggris. Aset Inggris telah jatuh akibat gangguan keuangan yang disebabkan oleh anggaran yang tidak seberapa. Ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk menghilangkan dampak risiko. Langkah-langkah di atas telah menyebabkan hilangnya kepercayaan pasar, yang pada akhirnya menjatuhkan karier politisi kelahiran Oxford, yang kini berusia 47 tahun tersebut. Investor juga memandang pengeluaran anggaran secara royal sebagai penyimpangan terhadap kenaikan suku bunga oleh Bank of England, yang diberlakukan akhir-akhir ini. Dan pada akhirnya terpaksa untuk mencoba mengurangi tingkat inflasi yang kian tidak terkendali.

Tony Danker, Ketua Konferensi Industri Inggris (CBI) yang menaungi 190.000 pebisnis di Inggris menyampaikan, “Peristiwa politik pada beberapa minggu terakhir telah merusak warga Inggris, serta mengguncang indeks bisnis, pasar dan kepercayaan investor global. Jika kita ingin terhindar dari bahaya lebih lanjut, baik keluarga maupun bisnis, maka ini semua harus segera diakhiri.”

Setelah Liz Truss mengundurkan dirinya, situasi pasar Inggris pun menarik napas lega. Dalam perdagangan sore (20/10), poundsterling naik melebihi $1,13 terhadap dolar AS, sementara imbal hasil obligasi pemerintah untuk periode 30 tahun menurun menjadi 3,94%. Semenjak program anggaran Liz Truss diberlakukan, imbal hasil obligasi pemerintah sempat melonjak di atas 5,0%, yang mana ini adalah rekor tertinggi dalam 20 tahun. Pada Rabu malam (19/10), anggota parlemen Inggris memilih untuk menentang Liz Truss, atas pendiriannya tentang fracking, yaitu metode pengeboran bahan bakar fosil yang kontroversial. Ini juga menjadi pukulan fatal terakhir bagi karir Liz Truss sebagai PM Inggris.

Pengunduran diri Liz Truss terjadi saat krisis biaya hidup di Inggris semakin dalam, dengan tingkat inflasi tertinggi semenjak 40 tahun belakangan. Hal ini belum lagi diperparah dengan melonjaknya harga bahan pangan dan bahan bakar.

Komentar

Terbarumore