(Taiwan, ROC) -- Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken melakukan wawancara singkat dengan mantan Menlu AS, Condoleezza Rice di Universitas Stanford. Dalam wawancara tersebut, Menlu Antony Blinken menanggapi pernyataan Pemimpin Xi Jin-ping (習近平) dalam Kongres Nasional Partai Komunis Tiongkok ke 20, yang menyampaikan bahwa Beijing tidak akan menyerah menggunakan kekuatan militer untuk menyerang Taiwan. Antony Blinken menyampaikan, Tiongkok telah membuat keputusan mendasar bahwa status quo tidak dapat diterima lagi, dan bukan tidak mungkin bagi Beijing untuk mempercepat tujuan reunifikasi.
Menanggapi pendapat Antony Blinken tersebut, Menteri Pertahanan Nasional (MND), Chiu Kuo-cheng (邱國正) saat hadir dalam sidang interpelasi di Yuan Legislatif (19/10) menyampaikan, semuanya berkemungkinan terjadi, ini harus dipelajari dan dievaluasi. Dasar penilaiannya akan menjadi bahan bagi Tentara Nasional untuk mencermati dengan sehati-hati mungkin. Chiu Kuo-cheng menekankan, Tentara Nasional memiliki periode waktu tertentu untuk membangun kekuatan dan mempersiapkan kemungkinan perang. Pihak MND juga telah mempersiapkan segala upaya untuk menghadapi tindak-tanduk Partai Komunis Tiongkok.
Chiu Kuo-cheng mengatakan, “Tentara Nasional tengah membangun kekuatan dan mempersiapkan kemungkinan terjadi perang. Apa yang akan dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok pada detik dan jam berikutnya, seluruh personil Tentara Nasional telah memperhitungkannya. Terlepas dari apakah mereka ingin menunda atau mempercepat, kami tetap berpegang pada jadwal kami. Kami tidak memandang sebelah mata, kami akan mempelajari dan menilai semuanya.”
Chiu Kuo-cheng beberapa hari lalu menetapkan definisi serangan pertama secara substantif, misal terdapat drone atau rudal yang melintasi perbatasan dan masuk ke wilayah udara Taiwan, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai serangan pertama. Menanggapi serangan pertama yang diluncurkan oleh Beijing, Tentara Nasional memiliki seluruh prosedur yang relevan. Setiap tindakan balasan yang dikerahkan adalah semata-mata untuk mempertahankan diri. Hari ini, media kembali mempertanyakan perihal kerusakan atau korban yang dapat disebabkan oleh serangan drone ke Taiwan? Chiu Kuo-cheng menjawab, drone tidak hanya akan menimbulkan korban jiwa di masa perang, tetapi akan sangat menyusahkan banyak warga di era perdamaian. Chiu Kuo-cheng menambahkan, dirinya tentu tidak ingin hal tersebut terjadi di Taiwan.
Namun, dalam menghadapi tindakan provokasi berulang Tiongkok, maka Tentara Nasional harus memiliki cara untuk menanggulanginya. Media kembali bertanya, apa yang akan dilakukan Taiwan saat Tiongkok benar-benar meluncurkan serangan mereka? Apakah Taiwan akan menembak jatuh (pesawat/drone musuh)? Chiu Kuo-cheng menjawab, serangan yang dilancarkan oleh Tiongkok akan ditanggapi Tentara Nasional sebagai aksi untuk mempertahankan diri. Di samping itu, Kementerian Pertahanan Inggris memperingatkan, bahwa Tiongkok tengah berinvestasi besar-besaran untuk merekrut pilot berkebangsaan Inggris. Saat ini ada 30 pensiunan pilot Inggris yang telah berangkat ke Tiongkok untuk membantu pelatihan tentara setempat dalam mempelajari taktik atau strategi terbaru, yang tengah dikembangkan oleh bangsa barat.
Menanggapi pemberitaan tersebut, Chiu Kuo-cheng menyampaikan, saat ini pihaknya hanya fokus terhadap pertahanan nasional Taiwan. Taiwan memiliki mekanisme hukum yang mengontrol para pensiunan dan veteran. Situasi yang tengah berkembang di luar negeri tentu dapat digunakan sebagai referensi, tetapi tidak perlu sampai harus mengait-ngaitkan dengan situasi pribadi.