(Taiwan, ROC) -- Pakar menyampaikan, dari sekitar 16 milyar telepon genggam yang ada dipermukaan bumi ini, diperkirakan lebih dari 5 milyar di antaranya dibuang atau ditaruh dalam lemari dan terlupakan, pakar mengimbau agar lebih agresif mendaur ulang semua telepon genggam yang menggandung bahan berbahaya ini.
Agence France-Presse (AFP) melaporkan, penelitian gabungan Waste Electrical and Electronic Equipment (WEEE) mendapatkan, tingginya timbunan sampah telepon genggam yang sudah tidak lagi digunakan bisa mencapai 50 ribu km, angka ini melebihi 100 kali jarak dari permukaan bumi ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Meskipun mengandung logam emas, tembaga, perak dan logam lain yang bernilai untuk didaur ulang, tetapi kebanyakan telepon genggam yang sudah tidak digunakan lagi ditumpuk, dibuang atau dibakar, hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Pascal Leroy, direktur jenderal WEEE Forum organisasi non profit yang mewakili 46 produsen, menyampaikan pada AFP, “Smart phone adalah salah satu produk yang paling kami perhatikan. Apabila kami tidak mendaur ulang bahan langka yang terdapat didalamnya, maka harus menambang bahan-bahan ini dari Daratan Tiongkok, Kongo dan negara lainnya.”
Berdasarkan data pemantauan limbah elektronik global tahun 2020, rata-rata setiap tahunya menghasilkan limbah elektronik sebanyak 44,48 juta ton limbah elektronik yang belum didaur ulang, dan telepon genggam adalah salah satu puncaknya.
Berdasarkan survei dari 6 negara Eropa antara Juni hingga September, dari 5 milyar telepon genggam yang sudah tidak dipakai lagi, kebanyakan adalah ditumpuk dan tidak dibuang ke tong sampah. Sebagian keluarga dan perusahaan melupakan dengan menaruh telepon genggam di laci, lemari baju, lemari dapur atau di mobil, tidak direparasi atau didaur ulang. Laporan menyebutkan, saat ini rata-rata keluarga biasa di benua Eropa menimbun limbah elektronik sekitar 5 kg.
Survei dari 8.775 keluarga, 46% mereka yang menyimpan peralatan elektronik dengan alasan mungkin suatu saat nanti bisa menggunakannya. 15% diantaranya berencana untuk menjual atau memberikan pada orang lain, 13% beralasan karena merasa sayang dengan barang yang pernah digunakan sehingga tetap menyimpan mereka.