(Taiwan, ROC) -- Risiko munculnya bentrokan antar selat Taiwan semakin meningkat, pakar mengemukakan, perang kognitif berada di mana-mana, dan dapat dikatakan perang telah sepenuhnya berlangsung, tidak dapat membedakan masa damai dan masa perang untuk sekarang ini, terutama Taiwan yang menghadapi perang kognitif Daratan Tiongkok. National Taiwan Normal University (NTNU) jurusan Asia Timur, Institute of Chinese Communist Studies, Majalah Penemuan dan Prospek, Perpustakaan Nasional tanggal 7 Oktober mengelar simposium “Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok dan Keamanan Regional”.
Kepala Majalah Penemuan dan Prospek, Liu Wen-bing (劉文斌) dan asisten dosen Fujen University, Cheng Der-ying memberikan laporan “Menjelajahi Pertahanan Tempur Kognitif dari Node Transmisi Informasi Liu Wen-bing mengemukakan, perang kognitif dapat menggunakan 4 tautan yaitu pemutarbalikan fakta (distorsir), spoofing, komentar untuk mengarahkan angin, dan unggahan dalam sosial media. Sekarang ini node penyampaian informasi mungkin dapat menggunakan orang atau anggota tertentu, youtuber, organisasi atau saluran lainnya, bahkan dapat diperluas hingga ke negara, hal ini memperlihatkan bahwa perang kognitif sudah ada di mana- mana.
Liu Wen-bing juga menegaskan, dalam perang kognitif RRT terhadap Taiwan, node informasi “kolaborator setempat” atau “youtuber” ini menjadi kunci penting yang terpercaya dalam penyampaian informasi, bakhan dalam penelitian juga membuktikan keberadaan hal seperti ini. “Pembeberan”, “Pemberantasan Node” tidak saja menjadi tugas penting dalam daftar tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat dalam literasi media dan pengenalan terhadap digital.
Cheng Der-ying mengungkapkan, perang kognitif tidak membedakan masa perang dan masa damai, bahkan sekarang ini dapat dikatakan sudah “perang” secara menyeluruh. Ia menyampaikan, perang kognitif RRT terhadap Taiwan adalah pemasaran cerita, dan penggunaan node untuk pencapaian target.
Cheng Der-ying mengatakan, harus waspada terhadap perang kognitif, berbagai ragam informasi yang disampaikan belum tentu dapat menggugah hati orang, pemberian informasi yang benar atau salah juga tidak harus dapat “memutarbalikan” hati orang, dan sekalipun informasi yang diberikan dapat mengerakan hati orang juga belum tentu dapat terungkapan dengan tindakan. Cheng menegaskan, perang kognitif menyusup secara perlahan, secara diam-diam bergerak, asalkan melakukan pencegah sejak dini maka dapat mencegahnya.