(Taiwan, ROC) Kantor Perwakilan Republik Tiongkok di Filipina kemarin (10/8)memberi sumbangan sebesar USD 200.000 kepada pemerintah Filipina, berharap dana ini dialokasikan untuk rekonstruksi propinsi Abra, Filipina yang dilanda bencana gempa pada akhir bulan Juli yang lalu, penyerahan dana sumbangan secara simbolis diterima oleh Kepala Representatif kantor perwakilan Manila di Taipei (MECO), Silvestre Bello III.
Pada tanggal 27 Juli yang lalu propinsi Abra terjadi gempa berskala ricther 7, menimbulkan 11 korban meninggal dunia dan 410 luka-luka, gempa yang memicu tanah longsor dan bangunan runtuh, kerugian yang dialami petani mencapai 287 juta. Gubernur Abra, Dominic B Valera turut menghadiri upacara penyerahan dana sumbangan dan menyampaikan apresiasi. Dominic B Valera mengatakan, berkat bantuan dari Taiwan, diyakini propinsi Abra akan bangkit dan pulih kembali.
Kepala Kantor Perwakilan Manila di Taipei, Silvestre Bello III saat diwawancarai mengatakan, “Presiden kami, Ferdinand Marcos Jr. dan masyarakat Filipina mengucapkan terima kasih atas simpati dan bantuan tulus dari pemerintah Taiwan.”
Media Filipina menanyakan, bagaimana menanggapi ketegangan yang terjadi di selat Taiwan, apakah juga mempersiapkan pengungsian? Silvestre Bello III mengatakan, kantor MECO selalu antisipisi dan siaga dengan program evakuasi, mengungsi, bantuan obat dan makanan. Akan tetapi, hingga saat ini informasi yang disampaikan dari Wakil Representatif MECO, Teodoro Luis B. Javelosa Jr.dan Analis dari kantor POLO (Philippine Overseas Labor Office) Cesar Chavez Jr. yakni, “warga kami di sini baik-baik saja, hingga saat ini tidak ada permintaan perlindungan, maupun evakuasi, segalanya berjalan dengan normal.”
Kepala Perwakilan Republik Tiongkok di Filipina, Michael Hsu Pei-yung menyampaikan kepada media, latihan militer di sekitar Taiwan, sikap “provokasi, sangat tidak bertanggung jawab, sangat berbahaya. Kami meminta dengan tegas RRT wajib bersikap rasional dan menjaga sikap”. Micheal Hsu mengatakan, “Di Taiwan, kami tidak gegabah, kami juga bersikap tenang dan tidak gentar. Kami condong membangun dialog terbuka yang konstruktif. Kami mengharapkan agar situasi ketegangan ini dapat mereda. Kami menjaga perdamaian dan status quo selat Taiwan.” Ia mengatakan, Taiwan bertekad melindungi kebebasan demokrasi dan masyarakat Taiwan, mencakup keselamatan jiwa pekerja migran Filipina di Taiwan.