(Taiwan, ROC) --- Pada tanggal 10 Agustus 2022, media Inggris, Financial Times mewartakan, di tengah ketegangan lintas selat yang masih terjadi hingga hari ini, ada pejabat keamanan nasional Taiwan yang menginginkan agar perusahaan Foxconn membatalkan investasi mereka kepada perusahaan pemroduksi chip asal RRT (Republik Rakyat Tiongkok), Tsinghua Unigroup yang bernilai US$ 800 juta.
Media Financial Times mengutip pernyataan seorang pejabat senior keamanan nasional Taiwan yang mengatakan bahwa kesepakatan antara perusahaan Foxconn dengan Tsinghua Unigroup tidak akan tercapai. Foxconn adalah produsen elektronik terbesar di dunia, dan juga merupakan pengusaha swasta terbesar di RRT, yang selama ini telah membuka puluhan ribu lapangan pekerjaan di kawasan setempat.
Foxconn yang juga adalah pemasok bagi perusahaan Apple Inc tersebut pernah menyampaikan, bahwa pihaknya akan membeli saham Tsinghua Unigroup dengan nilai fantastis, yakni US$ 800 juta. Jika kesepakatan tersebut terealisasikan, maka Foxconn akan menjadi pemegang saham Tsinghua Unigroup terbesar kedua. Kini, kesepakatan itu tersendat akibat polemik yang berkembang. Apalagi Beijing dengan bangsa Barat sudah sedari dahulu terlibat persaingan sengit di bidang teknologi. “Hal tersebut pasti tidak akan diloloskan,” demikian kutip media Financial Times.
Komite Peninjauan Investasi Taiwan (MOEAIC) belum mengevaluasi rencana investasi bersangkutan. Namun, salah seorang pejabat yang berada di Dewan Urusan Daratan Tiongkok Yuan Eksekutif yakin bahwa kesepakatan tersebut tidak boleh terjadi. Pada tanggal 14 Juli 2022, Foxconn menyampaikan, pihaknya secara tidak langsung telah mengakuisisi perusahaan Tsinghua Unigroup. Kesepakatan tersebut akhirnya memicu peringatan dari Komite Peninjauan Investasi yang berada di bawah naungan Kementerian Ekonomi, yang mengatakan bahwa Foxconn dapat didenda sebanyak NT$ 25 juta, karena tidak mengajukan persetujuan sebelumnya.
Pejabat bersangkutan menyampaikan, perusahaan Foxcoon tidak melanggar peraturan yang ada, karena kesepakatan dibuat dengan tidak melampaui ambang batas nilai investasi yang ditetapkan oleh otoritas Taiwan kepada perusahaan Foxconn Industrial Internet. Salah seorang yang dekat dengan perusahaan Foxconn menyampaikan, pejabat dari Dewan Keamanan Nasional telah diminta untuk menggelar peninjauan khusus terhadap proyek ini. Peninjauan khusus tersebut hanya berlaku bagi investasi bersifat "kontroversial", serta dianggap memiliki implikasi politik atau keamanan tertentu.
Orang tersebut mengatakan, “Jelas sekali bahwa mereka sekarang meningkatkan hal ini hingga ke tingkat keamanan nasional. Sehingga prospeknya kian menipis. Di tengah ketegangan lintas selat sekarang ini, maka tampaknya akan lebih sulit.” Hingga berita ini dirilis, belum ada keterangan resmi dari pihak Foxconn.