(Taiwan, ROC) – Hari Jumat tanggal 8 Juli waktu setempat, Presiden AS Joe Biden tiba di markas besar Badan Inteligen Pusat Amerika atau CIA, menyampaikan rasa terima kasih kepada semua staf karena memperingatkan dunia tentang invasi Presiden Rusia Vladimir Putin ke Ukraina, dan sekaligus memuji "keheningan" mata-mata AS yang berani".
Untuk menghormati peringatan 75 tahun berdirinya CIA, Biden menyampaikan bahwa dirinya telah bekerja sama dengan CIA selama 52 tahun. Yang pertama adalah pada tahun 1975, ketika dia baru menjadi senator, berpartisipasi dalam sebuah komite yang dibentuk untuk menyelidiki eksperimen pengendalian pikiran CIA dan pelanggaran lainnya.
Biden mengatakan intelijen yang dikumpulkan oleh CIA mengungkap rencana invasi Putin, memberi Amerika Serikat kesempatan untuk memperingatkan negara-negara lain bahwa perang akan datang. “Berkat kerja luar biasa para profesional intelijen, kami dapat memperingatkan dunia tentang rencana Putin terhadap Ukraina,” kata Biden.
Pihak Rusia sendiri telah mengumpulkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasan Ukraina sebelum invasi dilakukan pada 24 Februari. Tetapi Putin telah berulang kali menuduh AS dan kekuatan Barat lainnya dengan sengaja menciptakan citra yang akan memicu Rusia masuk ke dalam perang.
Sementara pihak Rusia menyatakan operasi di Ukraina sebagai "Operasi khusus".
Pidato Biden di CIA sangat kontras dengan pidato mantan Presiden Donald Trump. Trump mengkritik media berita dan lawan politiknya saat ia berdiri di depan CIA Memorial Wall (dinding bintang) untuk memperingati agen yang terbunuh atau hilang dalam menjalankan tugas selama inspeksi pertamanya di markas CIA dengan status sebagai presiden.
Biden menyebutkan bahwa dua bintang lagi telah ditambahkan ke tembok tahun ini, "Kesehatan dan kesejahteraan Anda adalah yang paling penting bagi saya dan kepemimpinan CIA." Hal yang disebut oleh Biden mungkin menunjuk kepada “Sindrom Havana”.
Selama lima tahun terakhir, pejabat AS dan anggota keluarga yang berada di beberapa negara di seluruh dunia telah melaporkan ketidaknyamanan fisik, termasuk kebingungan tiba-tiba yang tidak dapat dijelaskan, mual dan sakit kepala. Karena kasusnya pertama kali muncul di Kuba, maka disebut "Sindrom Havana". Serangkaian kondisi kesehatan yang tidak lazim ini, telah mempengaruhi sekitar 200 diplomat AS dan pejabat intelijen di seluruh dunia.