(Taiwan, ROC) – Hari Jumat tanggal 24 Juni, menjadi hari penutupan KTT BRICS yang digelar selama 2 hari. Para pemimpin negara anggota BRICS menyatakan dukungan kepada Moscow dan Kyiv agar dapat menjalankan pertemuan dan pembahasan ulang.
BRICS adalah akronim dari 5 negara antara lain Brasil, Rusia, India, Daratan Tiongkok dan Afrika Selatan. Beijing menjadi tuan rumah pelaksana KTT BRICS yang ke 14 secara virtual. 5 negara tersebut telah mencakup 40% populasi manusia di bumi, dengan tingkat GDP yang mendekati 1/4 nya dari jumlah total seluruh dunia.
Saat pihak PBB tengah menghitung jumlah negara pendukung untuk mengutuk sikap invasi Rusia ke Ukraina, 3 negara lain yang tergabung dalam BRICS, yakni Daratan Tiongkok, India dan Afrika Selatan memilih melepaskan hak suara dalam PBB.
Dalam surat pernyataan yang dirilis pada tanggal 23 Juni malam, BRICS menyatakan dukungan bagi Rusia dan Ukraina untuk kembali melakukan pertemuan dan pembahasan ulang, namun bukan berperan sebagai pembukaan jalan baru pasca perang.
5 negara menyampaikan jika dalam KTT juga turut menyampaikan kepedulian akan kondisi kemanusiaan di sekitar Ukraina, mendukung upaya instansi internasional dalam pemberian bantuan kemanusiaan.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai tanggal 24 Februari, Amerika dan Uni Eropa telah menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap Moscow. Sementara pihak Daratan Tiongkok dan India mengambil sikap menghindari kerusuhan, karena turut mengkhawatirkan hubungan dagang dan alutsista yang terjalin sangat erat dengan pihak Rusia.
Afrika Selatan juga menolak mengutuk Rusia, guna memastikan hubungan perekonomian antara Rusia dan Afrika Selatan dapat terus berkelanjutan.
Pihak Rusia dan Daratan Tiongkok saling memberikan sanjungan “Sahabat tak berbatas” satu sama lainnya. Presiden Daratan Tiongkok Xi Jin-ping menyampaikan pesan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyebutkan sikap saling mendukung dilandasi dengan kondisi yang berhubungan dengan kedaulatan dan keamanan.