(Taiwan, ROC) – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada hari Jumat tanggal 17 Juni waktu setempat, tanpa adanya pemberitaan terlebih dahulu, melakukan kunjungan dadakan ke Kota Kyiv, selain itu secara resmi juga meluncurkan program latihan militer yang bertajuk “Mampu sepenuhnya mengubah keseimbangan kondisi perang”, dengan perkiraan akan diikuti oleh 10.000 tentara Ukraina dengan bimbingan latihan penuh selama 120 hari, guna dapat menurunkan kepiawaian Inggris dalam melakukan pertempuran yang efektif.
Kantor Perdana Menteri Inggris juga mengonfirmasikan jika latihan tersebut akan digelar di luar Ukraina.
Sejak tahun 2015 hingga bulan Februari 2022, dimana akhirnya timpul konflik perang antara Rusia dan Ukraina, Inggris sebelumnya juga pernah menggelar latihan militer yang bertajuk “Operation Orbital” dengan diikuti lebih dari 22 ribu tentara Ukraina. Pada hari Jumat tanggal 17 Juni selain mengumumkan penyelenggaraan latihan militer terbaru, juga menyatakan jika jalur latihan yang ada juga akan menyerupai latihan sebelumnya.
Kantor Perdana Menteri menunjukkan bahwa rencana baru akan membantu tentara Ukraina untuk mempercepat penyebaran, memulihkan kekuatan dan memperluas kekuatan perlawanannya. Setiap anggota militer Ukraina yang berpartisipasi dalam program ini akan menerima pelatihan selama tiga minggu untuk mempelajari keterampilan tempur di garda terdepan, kemampuan medis dasar, keamanan siber, dan taktik kontra-pembongkaran.
Pada hari Jumat tanggal 17 Juni, kunjungan Boris Johnson ke ibu kota Ukraina, Kyiv, adalah untuk yang kedua kalinya sejak invasi skala besar Rusia terhadap Ukraina sejak tanggal 24 Februari dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Sementara kunjungan terakhir Johnson adalah pada bulan April 2022.
PM Boris Johnson mengatakan kunjungan kembali ke Kyiv adalah untuk mengirim pesan yang sederhana namun jelas kepada rakyat Ukraina, bahwa Inggris bersama dengan mereka hingga Ukraina memenangkan peperangan yang ada.
PM Boris Johnson menunjukkan bahwa ketika tentara Ukraina menggunakan rudal yang dipasok Inggris untuk mempertahankan kedaulatan negara mereka, mereka juga membela "Kebebasan yang diterima dengan rasional tersebut".
PM Boris Johnson dalam konferensi pers bersama yang digelar menyebutkan bahwa setelah pembicaraan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bahwa militer Rusia terus dengan sengaja menargetkan warga sipil, dimana hal ini menjadi sebuah hal yang tidak perlu diragukan lagi sebagai sebuah kejahatan perang. Selain itu, Rusia mengulangi kesalahan sejarah yang sama dengan relokasi paksa ilegal terhadap warga Ukraina.
Dalam menghadapi hal tersebut, Boris Johnson mengatakan dia dapat sepenuhnya memahami mengapa Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan warga Ukraina tidak dapat berkompromi dengan Rusia.
Boris Johnson menekankan bahwa Inggris akan terus memberikan Ukraina dukungan dalam hal persenjataan dan pelatihan militer. Dia menunjukkan bahwa dengan dukungan yang cukup, rakyat Ukraina dan angkatan bersenjata dapat mencapai tujuan impian mereka, yakni mengusir agresor dari Ukraina.
Boris Johnson menekankan bahwa ketika agresor telah diusir dari Ukraina, ini adalah waktu yang tepat untuk membahas masa depan Ukraina. Ketika Ukraina berhasil mendapatkan kembali kebebasannya, akan menjadi sebuah hal yang rasional bagi Inggris dan negara-negara lain untuk memberi Ukraina sebuah kondisi keamanan yang telah dibahas selama ini, serta komitmen dan jaminan terkait.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada konferensi pers bahwa Inggris dan Ukraina "Memiliki visi yang sama" tentang bagaimana bergerak maju menuju kemenangan. Dia mengungkapkan bahwa Inggris diharapkan memberi Ukraina lebih banyak senjata berat dan sistem pertahanan udara.
Topik pembicaraan Boris Johnson dengan Volodymyr Zelensky juga mencakup krisis pangan akibat blokade pelabuhan Ukraina oleh Rusia, bagaimana memperkuat sanksi terhadap Rusia dan dukungan untuk Ukraina dari berbagai negara, serta dukungan ekonomi, infrastruktur, dan kemanusiaan dari Inggris untuk Ukraina.