(Taiwan, ROC) --- Dalam pertemuan “Dialog Shangri-La” beberapa hari lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Lloyd Austin menyampaikan, India dapat menjadi kekuatan bagi stabilitas regional. Para cendekiawan India menyampaikan, negara India secara aktif telah memainkan peran yang ada, tetapi kemungkinan mereka untuk mendukung kondisi yang terjadi di Selat Taiwan, terbilang kecil.
Konferensi Keamanan Asia “Dialog Shangri-La” digelar di Singapura semenjak tanggal 10 Juni hingga 12 Juni 2022. Menhan Lloyd Austin mengutarakan, kemampuan militer, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki India saat ini berkembang secara bertahap, bukan tidak mungkin memiliki potensi untuk menstabilkan kawasan regional.
Dekan Institut Studi Internasional di Universitas Jawaharlal Nehru, Srikanth Kondapalli menuturkan, India melalui berbagai cara telah bertindak sebagai penstabil tatanan regional di Samudera Hindia, termasuk operasi AL setempat dalam memberantas bajak laut, mengikuti pelatihan militer bersama Malabar, dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada negara-negara sekitar yang terdampak insiden bencana alam.
Kepada media CNA, Srikanth Kondapalli menyampaikan, India mengadvokasi supremasi hukum pada platform multilateral, misal KTT Asia Timur. Kebijakan India juga memberikan kontribusi tersendiri bagi “multi-polarisasi” di kawasan terkait. Hal ini akan mendukung mekanisme koordinasi antara kekuatan-kekuatan besar, guna menghindari munculnya hegemoni dari satu negara di Asia.
Situasi Selat Taiwan merupakan bagian penting dari stabilitas regional, dan menurut Srikanth Kondapalli, India akan meletakkan fokus mereka pada pelanggaran RRT yang terjadi di wilayah perbatasan antara India dengan Tiongkok.
Srikanth Kondapalli percaya bahwa India adalah bagian dari pendukung paham demokrasi, dan telah mendapat penegasan dari Perdana Menteri Narendra Modi. Oleh karena itu, jika RRT menginvasi Taiwan, maka India akan menggelar pembahasan tentang penanggulangan, bersama dengan negara anggota Quad Security Dialogue .
Di sisi lain, seorang peneliti di Centre for China Analysis and Strategy, Namrata Hasija mengatakan kepada media CNA, hubungan India dengan RRT berada di titik terendah, dan kecil kemungkinan hubungan mereka akan baik-baik saja atau setidaknya ditingkatkan dalam jangka waktu dekat.
Hal ini dapat terlihat dari interaksi bilateral antara Menlu RRT, Wang Yi saat berkunjung ke India pada bulan Maret lalu. Selain itu, sikap kedua negara dalam mengatasi permasalahan sengketa di wilayah perbatasan, juga tidak terlalu aktif.
Namrata Hasija menambahkan, India tentu membutuhkan dukungan dari mitra lainnya. Oleh karena itu, India bersedia berpartisipasi sebagai salah satu sumber kekuatan dalam menjaga stabilitas regional.
Ketika ditanya perihal Selat Taiwan, Namrata Hasija menyampaikan, AS sendiri belum menyertakan Taiwan sebagai anggota "Indo-Pacific Economic Framework" (IPEF). Namrata Hasija menambahkan, meski hubungan India dengan Taiwan telah berkembang dalam beberapa tahun belakangan, tetapi dengan tidak adanya jalinan diplomatik resmi antar keduanya, sehingga membuat India sulit berbicara untuk Taiwan di hadapan umum.
Selain itu, beberapa cendekiawan India percaya bahwa alasan mengapa New Delhi memilih menghindari membahas perihal lintas selat, karena tidak ingin memprovokasi Beijing, yang dicemaskan akan berpengaruh bagi perkembangan di wilayah perbatasan India dengan RRT.