(Taiwan, ROC) - Sebulan lebih sudah berlalu sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina. Sanksi dari manca negara terhadap Rusia telah membangkitkan masalah kenaikan harga minyak dan kestabilan pasokan gas alam global. Untuk Taiwan, dampak akan dirasakan pertumbuhan ekonomi, di mana kenaikan harga barang serta tekanan inflasi saat ini diperkirakan tidak akan lenyap kendati harga minyak stabil kembali.
Direktur Jenderal DGBAS atau Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi dan Statistik, Chu Tzer-ming (朱澤民), saat menghadiri sidang Yuan Legislatif pada hari Senin dan menjawab interpelasi tentang dampak ekonomi dari perang Rusia-Ukraina menerangkan, prakiraan laju ekonomi 2022, yang sebelumnya 4,42%, dipastikan akan direndahkan dalam laporan edisi Mei, tapi skalanya tidak akan terlalu besar, berkisar pada 0,3%-0,4%, maka laju ekonomi tahun ini seharusnya bisa dipertahankan pada 4%, kecuali perang terus berlanjut dan memperburuk situasi internasional.
Chu mengatakan, “Andaikata kondisi sekarang terus berlanjut, (laju ekonomi) memang mungkin diturunkan, tapi skalanya tidak akan terlalu besar. Prakiraan pertumbuhan untuk kuartal pertama setinggi 3% kemungkinan besar akan bisa dicapai. Laju ini akan sangat dekat dengan prakiraan semula.”
Perihal kenaikan harga barang dan tekanan inflasi, Wakil Dirjen DGBAS Tsai Hung-kun (蔡鴻坤) sebelumnya telah mengemukakan di Yuan Legislatif, andaikata perang Rusia-Ukraina tidak berakhir pada Mei, peningkatan indeks harga konsumen (CPI) akan dinaikkan lagi sebanyak 0,5%-0,7% menjadi 2,4%-2,7%, bahkan 3% kalau harga minyak naik hingga US$150 per barel.
Tsai juga mengaku, kendati harga minyak stabil kembali, kenaikan harga barang serta tekanan inflasi di Taiwan diperkirakan tidak akan lenyap