(Taiwan, ROC) --- Perang perdagangan antara AS dengan RRT pecah pada tahun 2018 silam. Konflik ini bahkan meluas hingga ke sektor lainnya, termasuk teknologi.
American Chamber of Commerce in Taiwan (AMCHAM) hari ini (19/1) merilis laporan survei mereka perihal tren bisnis tahun 2022, memperlihatkan bahwa perang perdagangan antar kedua negara adidaya tersebut cukup berdampak signifikan bagi lingkungan bisnis dalam negeri dan anggota AMCHAM sendiri.
Namun demikian, pandangan AMCHAM terhadap prospek saat ini mengalami sedikit perubahan. Ada sekitar 42% anggota percaya bahwa perang perdagangan AS – RRT memberikan dampak positif bagi Taiwan. Yang mana angka ini menurun sebanyak 8% jika dibandingkan tahun lalu.
Sedangkan 22% persen lainnya percaya bahwa konflik tersebut berdampak negatif bagi Taiwan, atau dengan kata lain meningkat 6% jika dibandingkan tahun lalu.
Menanggapi hasil survei yang ada, Kepala AMCHAM – Shi Li-cheng (施立成) menyampaikan, bahwa tren dunia saat ini lebih mengarah kepada peningkatan stabilitas kawasan regional, guna memperkuat kerja sama pada pebisnis.
Persaingan antar AS dengan RRT hanya akan berdampak pada operasional bisnis, terutama dengan meningkatnya tarif embargo atau logistik.
Shi Li-cheng juga menyebutkan bahwa 65% anggota AMCHAM setuju jika Taiwan melakukan negosiasi perdagangan bilateral dengan AS. Dan 62% lainnya juga mendukung Taiwan disertakan dalam keanggotaan kerangka kerja sama “Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik CPTPP”.
Di samping itu, para anggota juga mencemaskan empat tantangan bagi perkembangan ekonomi Taiwan di masa mendatang, meliputi keamanan informasi, berita palsu, perlindungan hak kekayaan intelektual dan kesulitan Taiwan untuk bergabung dengan mekanisme perdagangan multilateral.